BNPT Perkuat Literasi Digital Cegah Radikalisasi di Media Sosial
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)
Penguatan literasi dan kontra narasi
Eddy Hartono menegaskan perang melawan radikalisme kini berlangsung tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga melalui perang narasi di ranah digital. Menurutnya, penguatan kontra narasi dan ketahanan masyarakat menjadi langkah sentral untuk meredam penyebaran ideologi tersebut.
“Jangan sampai kita kalah kuat dengan narasi-narasi kelompok teror. Mereka terus berusaha menyebarkan ideologi tersebut.”
Ia menyatakan upaya edukasi harus berkelanjutan dan terarah, sehingga masyarakat dapat mengenali dan menolak konten radikal yang menyusup ke platform daring.
Target generasi muda
BNPT menggarisbawahi bahwa penyebaran paham radikal kini kerap menyasar anak-anak dan generasi muda melalui beragam platform digital. Kondisi ini membuat literasi digital bagi pelajar dan keluarga menjadi prioritas.
“Kita sadar targetnya adalah anak-anak kita dan generasi muda. Penyebaran itu terjadi di ruang publik maupun dunia maya.”
Pandangan Wakapolri tentang dinamika ancaman
Wakil Kapolri, Komjen Pol. Dedi Prasetyo, menyoroti cepatnya arus informasi global yang membuat ancaman keamanan bersifat lintas batas dan saling terkait. Ia menilai fenomena ini mempersulit pemisahan antara ancaman lokal dan global.
“Fenomena ancaman saat ini saling berkaitan dan berpotensi ditiru dengan cepat. Pengaruh media sosial dan jaringan ideologi sangat besar.”
Dedi menekankan pentingnya penyesuaian strategi penanganan untuk membaca gejala awal dan meningkatkan langkah pencegahan.
Langkah pencegahan yang diusulkan
Untuk mempersempit ruang penyebaran ideologi radikal, BNPT dan Polri mendorong beberapa langkah praktis, antara lain:
- Peningkatan program literasi digital bagi pelajar, orang tua, dan pendidik.
- Penguatan kontra narasi yang berbasis bukti dan lokal.
- Peningkatan kemampuan membaca gejala awal radikalisasi secara komunitas.
- Kolaborasi lintas lembaga untuk edukasi dan pencegahan berkelanjutan.
BNPT dan aparat keamanan menilai upaya ini harus berlangsung terus-menerus agar ruang bagi paham radikal di media sosial dapat dipersempit. Perubahan pola ancaman memaksa strategi pencegahan dan edukasi ikut beradaptasi secara cepat dan terukur.
Berita Terkait
Cara Memilih Hewan Kurban Sehat dan Sesuai Syariat
Panduan memilih hewan kurban sehat dan sesuai syariat: cek usia, tanda fisik, dan SKKH agar daging aman diko...
Revisi UU Polri Perkuat Peran Kompolnas, DPR Bentuk Panja
DPR dan pemerintah sepakat revisi UU Polri 2002 perlu memperkuat Kompolnas, pengawasan, dan profesionalisme...
Pemerintah Diminta Bongkar Mafia Pupuk Subsidi sampai Akar
Komisi IV DPR minta pemerintah bongkar mafia pupuk subsidi setelah Kementan cabut 2.231 izin; kerugian akiba...
Daftar Anggota Panja dan Tujuh Pokok Perubahan RUU Polri
Komisi III DPR membentuk panja RUU Polri pada 25 Mei 2026 untuk membahas tujuh poin pokok perubahan yang men...
Download SPTJM dan Cara Daftar Prapendaftaran SPMB DKI 2026
Prapendaftaran SPMB DKI 2026 (SMP/SMA/SMK) buka 19 Mei–10 Juni; unduh SPTJM di laman resmi dan unggah setela...
Nezar: Semangat Kurban Perkuat Kolaborasi di Era Digital
Wamenkomdigi Nezar mengajak memaknai semangat kurban untuk memperkuat kolaborasi dan mengentaskan kesenjanga...