BNPB: Waterbombing Hanya Pendukung, Pasukan Darat Kunci Pemadaman
BNPB menegaskan operasi udara menggunakan helikopter waterbombing hanya berperan sebagai upaya pendukung dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di lahan gambut. Pernyataan itu disampaikan Kepala BNPB, Suharyanto, saat memberikan keterangan di Gedung Kemenko Polkam pada Senin, 10 Agustus 2026. Menurutnya, operasi darat tetap menjadi upaya utama untuk memastikan api benar-benar padam.
Efektivitas waterbombing di lahan gambut
Suharyanto menjelaskan kapasitas satu helikopter waterbombing sekitar empat ton air per operasi. Jika tiga helikopter dikerahkan bersamaan, total air yang dijatuhkan mencapai sekitar 12 ton. Namun, jumlah tersebut hanya mampu menangani area sangat terbatas di lahan gambut.
Ia menekankan bahwa penyiraman dari udara pada lahan gambut umumnya hanya menjangkau sekitar 10 meter persegi, dan belum tentu mampu memadamkan api sampai tuntas. Kondisi gambut yang mudah menyala menyebabkan titik api dapat kembali menyala jika tidak diatasi dari permukaan.
Pentingnya pasukan darat
Karena keterbatasan efektivitas penyiraman udara di gambut, BNPB meminta pemerintah daerah siap menyiagakan dan mengerahkan pasukan darat. Operasi darat diperlukan untuk menelusuri dan memadamkan titik api yang menyala di bawah permukaan gambut.
Ketika cuaca sangat panas tidak ada awan hujan, salah satu paling efektif adalah operasi darat. Karena operasi udara itu hanya membantu,
BNPB mengimbau agar upaya utama pemadaman tetap difokuskan pada mobilisasi tim darat, sementara waterbombing dipakai sebagai dukungan taktis bila diperlukan.
Penyebab kebakaran di kawasan Bromo
Menkopolkam Djamari Chaniago menyatakan bahwa human error menjadi salah satu kemungkinan penyebab kebakaran di kawasan Gunung Bromo. Ia belum merinci hasil penyelidikan, tetapi menunjukkan aktivitas manusia di kawasan wisata dapat memicu kebakaran.
Kalau Bromo itu, kira-kira begitu. Karena human error,
Djamari mencontohkan kemungkinan pengunjung menyalakan api untuk menghangatkan diri atau lupa memastikan api benar-benar padam. Ia juga mengingatkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, sehingga kewaspadaan dan pencegahan perlu ditingkatkan, terutama di musim panas dan kondisi kering.
Implikasi dan langkah ke depan
Perpaduan strategi pemadaman yang melibatkan operasi darat sebagai tulang punggung, serta dukungan udara selektif, menjadi fokus BNPB. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan tim darat dan langkah pencegahan di kawasan rawan, termasuk pengawasan aktivitas pengunjung di kawasan wisata.
Upaya bersama ini dinilai penting untuk menekan risiko kebakaran berulang dan memastikan api benar-benar padam, khususnya pada lahan gambut yang rentan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...