Nasional

Karhutla Meluas, BMKG: OMC Tak Bisa Dilaksanakan 10 Hari ke Depan

Bagikan:
Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan di lahan terbakar

BMKG mengatakan operasi penyemaian awan atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa dilaksanakan setidaknya dalam 10 hari ke depan karena kondisi atmosfer belum mendukung. Pernyataan ini disampaikan saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di berbagai provinsi antara 7–10 Agustus 2026, sehingga penanganan masih bergantung pada operasi darat dan udara.

Mengapa OMC belum memungkinkan?

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan OMC membutuhkan awan konvektif yang cukup sebagai syarat untuk menyemai bahan semai seperti garam atau natrium klorida. Tanpa awan tersebut, penyemaian lewat pesawat tidak efektif.

“Kondisi setiap daerah beda-beda, tapi kami pantau terus sampai ada potensi (awan) untuk OMC.”

BMKG bersama tim ilmiah memantau perkembangan awan di tiap wilayah. Namun, kepastian pelaksanaan masih sangat bergantung pada pertumbuhan awan konvektif lokal.

Penyebaran karhutla dan luas lahan terdampak

BNPB melaporkan titik api tersebar di Sumatera, Jawa, Bangka Belitung, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya. Beberapa lokasi mengalami kerusakan lahan yang signifikan, mendorong penutupan kawasan wisata dan evakuasi lokal.

Lokasi Luas Terbakar (hektare)
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur) 520
Gunung Watangan, Kabupaten Jember (Jawa Timur) 6,5
Subang (Jawa Barat) 2
Jepara (Jawa Tengah) 2
Banyumas (Jawa Tengah) 3
Pulau Bakalan, Banggai Kepulauan (Sulawesi Tengah) 72,4
Gunung Batu Pongki, Tojo Una-Una (Sulawesi Tengah) 3
Tana Toraja (Sulawesi Selatan) 15
Halmahera Timur (Maluku Utara) 23
Sorong (Papua Barat Daya) 2
Belitung Timur (Bangka Belitung) 2,29
Aceh Besar (Aceh) 1

Upaya penanganan sementara

BNPB menegaskan penanganan karhutla tetap dilakukan meski OMC belum bisa dilaksanakan. Petugas gabungan dikerahkan untuk menahan laju api dan melindungi area kritis.

  • Penyiraman darat menggunakan truk tangki
  • Pembuatan sekat bakar untuk membatasi penyebaran
  • Penyiraman udara melalui helikopter water bombing
  • Koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan TNI/Polri

BNPB juga memprioritaskan pemantauan titik panas di wilayah yang kering dan rawan kebakaran. Intervensi lapangan berlangsung sambil menunggu kondisi awan yang memungkinkan untuk OMC.

Implikasi dan prospek

Keterlambatan kemungkinan penerapan OMC menegaskan pentingnya kesiapsiagaan operasi darat dan udara. Jika pertumbuhan awan konvektif terjadi, BMKG dapat merekomendasikan OMC pada wilayah yang memenuhi syarat.

Hingga saat kondisi atmosfer berubah, fokus penanganan tetap pada pengekangan api dan perlindungan masyarakat terdampak.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait