Nasional

BMKG Imbau Petani Sesuaikan Jadwal Tanam Hadapi El Nino 2026

Bagikan:
Petani di lahan menyimak kondisi tanah kering menjelang musim kemarau

BMKG mengimbau petani menyesuaikan jadwal tanam untuk mengurangi risiko produksi akibat potensi El Nino yang diprediksi terjadi pada 2026. Imbauan ini disampaikan menjelang musim kemarau, karena fenomena tersebut berpotensi menurunkan curah hujan dan memperpanjang periode kekeringan di banyak wilayah Indonesia.

Imbauan dan rekomendasi BMKG

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyarankan agar petani mengubah pola tanam dan memilih varietas yang tahan kering. Tujuannya adalah meminimalkan kerugian produksi ketika pasokan air menipis.

"Sedangkan mengenai fenomena anomali iklim El Nino telah berkembang, berdasarkan prediksi terbaru BMKG berpotensi mencapai intensitas yang kuat. Kondisi ini diprediksi dapat mengurangi curah hujan sebagian besar wilayah Indonesia,"

Dampak El Nino terhadap musim kemarau

BMKG memperingatkan bahwa El Nino dapat membuat musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya. Kondisi ini berdampak besar pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi dan hujan musiman.

Akibatnya, risiko gagal panen, penurunan produktivitas, dan kerugian ekonomi meningkat jika langkah adaptasi tidak segera diambil.

Langkah teknis yang disarankan

BMKG merekomendasikan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan petani untuk mengurangi dampak El Nino. Rekomendasi ini fokus pada pengelolaan air dan pilihan varietas tanaman.

  • Penyesuaian jadwal tanam agar fase kritis tanaman tidak bertepatan dengan puncak kekeringan.
  • Memilih varietas tahan kering berumur genjah untuk mempercepat masa panen dan mengurangi kebutuhan air.
  • Diversifikasi ke komoditas palawija yang relatif lebih tahan kering dibanding tanaman padi.
  • Penerapan teknik konservasi air, seperti mulsa dan pengelolaan irigasi lebih efisien.

Siapa perlu bersiap dan langkah selanjutnya

Antisipasi perlu dilakukan bukan hanya oleh petani, tetapi juga pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan pihak penyedia layanan irigasi. Informasi prakiraan cuaca dan curah hujan dari BMKG sebaiknya dijadikan dasar perencanaan budidaya di tingkat lokal.

"Sehingga, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih kering dan lebih panjang,"

Dengan kesiapsiagaan sejak awal musim kemarau, diharapkan risiko produksi dapat diminimalkan dan ketahanan pangan lokal tetap terjaga.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait