Nasional

Bendungan Jlantah Andalan Jaga Pasokan Air saat Kemarau El Nino

Bagikan:
Bendungan Jlantah di Karanganyar dengan genangan dan saluran irigasi

Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, resmi beroperasi setelah diresmikan Presiden pada 10 Juli 2026 dan langsung difungsikan untuk menjaga pasokan air saat musim kemarau El Nino. Proyek yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum ini diharapkan mencegah krisis air, mendukung irigasi pertanian, serta memenuhi kebutuhan air minum dan energi lokal.

Peresmian dan tujuan strategis

Bendungan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan dan ketahanan air. Menurut Menteri Pekerjaan Umum, infrastruktur bendungan penting sebagai hulu layanan air yang harus sampai ke masyarakat.

"Swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air memerlukan tata kelola air yang tertib, berkelanjutan, dan benar-benar sampai kepada rakyat. Bendungan adalah hulu dari pelayanan itu,"

Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis pada 21 Juli 2026.

Kapasitas, irigasi, dan manfaat pertanian

Bendungan Jlantah memiliki kapasitas tampung 11,82 juta meter kubik dengan luas genangan 54,77 hektare. Infrastruktur ini juga mampu mereduksi banjir pada area persawahan seluas 87 hektare.

Melalui jaringan irigasi, bendungan mendukung layanan untuk 1.494 hektare lahan pertanian. Saat ini sebanyak 806 hektare telah terlayani melalui 15 daerah irigasi (DI). Selain itu, masih ada potensi pengembangan irigasi seluas 688 hektare yang tersebar pada 20 DI.

Ketersediaan air dari bendungan meningkatkan indeks pertanaman dari 172 persen menjadi 272 persen, sehingga petani dapat melakukan penanaman lebih sering dalam setahun. Program pencetakan sawah juga mendapat dukungan melalui saluran induk Jlantah seluas 229,90 hektare.

Dukungan air minum dan potensi energi

Bendungan menyediakan air baku sebesar 150 liter per detik untuk layanan air minum. Aliran ini meningkatkan cakupan layanan di tiga kecamatan dari sekitar 20 persen menjadi 100 persen.

Secara proyeksi, infrastruktur ini membantu memenuhi kebutuhan air domestik sehingga swasembada air dapat mencapai 71,41 persen pada 2040. Selain itu, bendungan memiliki potensi pembangkit listrik sebesar 10,625 megawatt untuk mendukung ketersediaan energi lokal.

Pembangunan dan anggaran

Pembangunan Bendungan Jlantah dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo sejak 2019 dan rampung pada 2024. Proyek ini menelan biaya sekitar Rp1,02 triliun. Pemerintah memandang proyek sebagai solusi jangka panjang menghadapi ancaman kekeringan selama musim kemarau El Nino.

Dengan kapasitas dan fungsi ganda untuk irigasi, air baku, serta potensi energi, Bendungan Jlantah diposisikan sebagai infrastruktur kunci untuk meningkatkan ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim dan fluktuasi musim.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait