Nasional

Bantuan Pangan Topang Warga NTT Pascagempa

Bagikan:
Penyaluran bantuan pangan di Manggarai, NTT untuk warga terdampak gempa

Pemerintah menyalurkan bantuan pangan di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu 19 Agustus 2026, untuk menanggung kebutuhan warga terdampak gempa. Penyaluran dipimpin Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sebagai respons cepat atas arahan presiden.

Kondisi warga dan dampak gempa

Salah satu penerima, Daniel, guru Sekolah Luar Biasa di Labuan Bajo, tinggal sementara di tenda setelah rumahnya rusak. Plafon jebol, sejumlah tembok retak, dan kaca jendela pecah. Bangunan itu juga dihuni sejumlah penyandang disabilitas.

Daniel menjelaskan bantuan pangan sangat membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari selama masa pemulihan. Ia berharap perhatian pemerintah terus diperluas agar penyandang disabilitas mendapat dukungan layak.

“Harapannya, dukungan yang telah disampaikan kepada kami dapat mengurangi sedikit beban kami, stres kami, daripada bencana yang telah terjadi,”

Kesaksian warga lain

Ahmad, warga Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, menceritakan pengalaman saat gempa mengguncang. Ia sedang hendak masuk rumah setelah menyiram tanaman ketika guncangan kuat terjadi.

“Goyang-goyangnya luar biasa. Naik ke atas, ke bawah, ke atas, ke bawah,”

Akibat gempa, bagian dapur rumah Ahmad rusak dan rumah tetangga juga terdampak. Ia berharap penyaluran bantuan berjalan merata sehingga tidak menimbulkan kekecewaan di kalangan warga.

“Harapan kami supaya merata, jadi tidak ada yang merasa kecewa dari pembagian ini,”

Besaran dan alokasi bantuan

Secara keseluruhan, pemerintah mencatat bantuan pangan yang disalurkan di NTT mencapai 26.440,4 ton dengan nilai sekitar Rp370,2 miliar. Rinciannya mencakup program reguler dan penanganan bencana.

Kategori Jumlah (ton) Nilai (Rp)
Bantuan pangan reguler (Juli–September) 25.579 358,1 miliar
Bantuan untuk penanganan bencana 861,5 12,1 miliar
Lima kabupaten terdampak (Manggarai dkk.) 6.673,2 93,5 miliar

Selain itu, disebutkan stok beras di NTT mencapai sekitar 39.000 ton. Kebutuhan beras bagi sekitar 34.600 pengungsi diperkirakan sekitar 300 ton per bulan.

Respons pemerintah dan distribusi

Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah bergerak cepat agar tidak ada warga yang kelaparan. Ia menyatakan ketersediaan beras memadai dan penyaluran tidak harus menunggu proses administrasi pusat bila kondisi darurat.

“Yang jelas, tidak boleh ada yang tidak kebagian bantuan atau kelaparan. Itu tidak boleh,”

“Intinya tidak akan kekurangan beras. Kalau beras, tanggung jawab saya,”

Hingga kini, pemerintah telah mengirim sekitar 6.000 ton beras ke wilayah terdampak. Untuk Kabupaten Manggarai, penyaluran tambahan sebesar 15 ton dilakukan pada 20 Agustus 2026. Penyaluran akan terus ditambah sesuai kebutuhan di lapangan.

Impilikasi jangka pendek

Bantuan pangan menjadi penopang utama bagi warga seperti Daniel dan Ahmad selama proses pemulihan. Selain memenuhi kebutuhan pokok, bantuan ini diharapkan mereduksi tekanan psikologis dan memberi ruang bagi rehabilitasi rumah dan fasilitas publik.

Ke depan, pemantauan distribusi dan perhatian khusus kepada kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, menjadi kunci agar pemulihan berjalan lebih adil dan efektif.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait