Nasional

Airlangga: B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Hemat Rp177 T

Bagikan:

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan implementasi mandatori B50 memperkuat ketahanan energi nasional, menghentikan impor solar, dan menghemat devisa sekitar Rp177 triliun per tahun. Pernyataan itu disampaikan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026.

B50 hentikan impor solar dan hemat devisa

Menurut Airlangga, penerapan campuran biodiesel 50% ini membuat kebutuhan solar dalam negeri terpenuhi sehingga impor dapat dihentikan. Pemerintah menyebut dampak langsung kebijakan adalah penghematan devisa yang signifikan.

"Kemarin Bapak Presiden meluncurkan yang namanya B50. B50 menunjukkan Indonesia punya kekuatan sendiri karena B50 solar kita tidak impor lagi, kita menghemat devisa Rp177 triliun,”

Indonesia jadi pelopor B50

Airlangga menyatakan Indonesia merupakan negara pertama yang menerapkan mandatori B50. Menurutnya, langkah ini menunjukkan kemampuan memanfaatkan sumber daya domestik untuk kebutuhan energi tanpa tergantung impor.

"B50 menjadi yang pertama di dunia. Tidak ada negara lain yang menerapkan program B50 ini,"

Bagian dari penguatan fondasi ekonomi

Penguatan ketahanan energi masuk dalam upaya pemerintah memperkokoh fondasi ekonomi nasional. Airlangga mengatakan kebijakan ini terkait dengan penguatan rantai pasok, kedaulatan pangan, dan kedaulatan energi sebagai antisipasi terhadap ketidakpastian global.

"Di tengah ketidakpastian konflik geopolitik yang belum selesai, ditambah lagi ketidakpastian dengan teknologi disruption seperti artificial intelligence. Indonesia harus memperkuat fondasi ekonomi, terutama terkait dengan supply chain,”

Percepatan PLTS 100 GW dan hilirisasi baterai

Selain pengembangan biodiesel, pemerintah juga mendorong percepatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt. Airlangga menyebut kesiapan untuk mengembangkan industri hilirisasi baterai kendaraan listrik juga sudah ada.

"Bapak Presiden mendorong dimulainya program 100 gigawatt berbasis solar. Untuk hilirisasi daripada ekosistem baterai elektrik sudah siap, bukan hanya untuk otomotif tetapi untuk battery storage system juga,"

Gabungan program B50 dan percepatan energi terbarukan diharapkan memperkecil ketergantungan impor energi serta mendukung transisi energi bersih. Langkah ini sekaligus menunjukkan fokus pemerintah pada kemandirian energi dan penguatan rantai nilai industri terkait.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait