APKASI Dorong Perbaikan Skema DBH Sawit untuk Daerah Penghasil
Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) meminta perbaikan skema Dana Bagi Hasil (DBH) sawit agar lebih berpihak kepada daerah penghasil. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum APKASI, Bursah Zarnubi, dalam rapat dengan Komisi II DPR RI pada Kamis, 30 Juli 2026. APKASI menilai skema saat ini belum mencerminkan kontribusi ekonomi daerah penghasil dan berdampak pada pengelolaan fiskal daerah.
DBH Sawit Minim dalam Struktur APBD
Bursah menyoroti bahwa penerimaan DBH sawit hampir tak terlihat dalam struktur APBD sejumlah kabupaten penghasil. Menurutnya, hal ini tidak sebanding dengan potensi ekonomi yang dihasilkan dari perkebunan sawit di daerah tersebut.
“Hampir tidak kelihatan di angka, hampir tidak kelihatan di struktur penerimaan APBD Kabupaten Penghasil Sawit,”
Gangguan pada Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan
APKASI juga mengingatkan masalah penyaluran DBH yang tidak konsisten. Ada kasus di mana DBH yang seharusnya dibayarkan masih dicicil atau tertunda. Kondisi ini mengganggu proses penetapan dan pelaksanaan APBD.
“Bahkan DBH kurang bayar pun masih dibayarkan secara bertahap, sehingga mengganggu pengelolaan keuangan daerah. Kadang-kadang asumsi kita sekian, tiba-tiba DBH tertunda lagi, jadi mengganggu penetapan APBD,”
Usulan Perbaikan Tata Kelola
Untuk mengatasi masalah tersebut, APKASI mengajukan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah pusat. Rekomendasi ini bertujuan agar pembagian hasil sawit lebih adil dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat di daerah penghasil.
- Menata ulang skema DBH agar proporsional terhadap kontribusi daerah penghasil.
- Menyusun payung hukum yang jelas untuk memastikan keadilan distribusi DBH.
- Menyempurnakan tata kelola dan melakukan rekonsiliasi data DBH secara berkala.
- Menetapkan kepastian waktu dan jumlah penyaluran setelah terbitnya Peraturan Menteri Keuangan.
- Menyalurkan DBH kurang bayar secara penuh dan tepat waktu.
Harapan dan Implikasi
APKASI berharap perbaikan skema DBH sawit dapat memperkuat kapasitas fiskal kabupaten penghasil. Perbaikan juga diharapkan memberi dampak langsung pada penurunan kemiskinan di sekitar kawasan perkebunan dan memastikan masyarakat setempat turut menikmati manfaat ekonomi dari sawit.
Jika rekomendasi ini diimplementasikan, daerah penghasil berpotensi memiliki perencanaan anggaran yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Yusril: Inovasi dan Integritas Bentuk Generasi Indonesia Mendunia
Yusril: inovasi, integritas, dan belajar sepanjang hayat kunci mencetak generasi Indonesia kompetitif di era...
Pemda Diminta Efisiensi Anggaran Sebelum Ajukan Top-up
Mendagri Tito Karnavian minta Pemda efisiensi anggaran dulu sebelum ajukan top-up; setiap usulan akan dibeda...
Prabowo Coba Nusantara Explorer Usai Resmikan Stasiun Semarang
Presiden Prabowo pertama kali menjajal Nusantara Explorer pada 30 Juli 2026 setelah meresmikan revitalisasi...
Kemen PPPA Perkuat Kolaborasi Lawan TPPO di Era Digital
Kemen PPPA minta penguatan kolaborasi antarlembaga dan pentahelix untuk mencegah TPPO di era digital, ujar D...
DPR Bahas Fiskal Daerah dan Tata Kelola P3K Saat Reses
DPR menggelar rapat kerja saat reses untuk membahas kondisi fiskal daerah dan tata kelola P3K, kata Wakil Ke...
Prabowo Akui Dilema Kereta Cepat dan Pelayanan Kota Kecil
Presiden Prabowo akui dilema pembangunan kereta cepat vs pelayanan kota kecil saat meresmikan revitalisasi S...