Wamenkomdigi: Waspadai Ancaman Dominasi Algoritma
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia agar mewaspadai bentuk baru penjajahan di era digital akibat dominasi algoritma platform. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 24 Mei 2026, saat membahas dampak algoritma terhadap pola pikir dan persaingan teknologi global.
Dominasi algoritma dan risiko sosial
Nezar menilai ruang publik kini banyak dimediasi oleh platform digital yang dikendalikan algoritma. Akibatnya, informasi yang muncul cenderung menyesuaikan selera pengguna, sementara pandangan berbeda tersisih.
Menurutnya, kondisi itu memicu filter bubble dan echo chamber yang dapat mempersempit sudut pandang masyarakat dan melemahkan kemampuan berpikir kritis.
“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma,” ujar Nezar.
Persaingan teknologi dan ancaman bagi bonus demografi
Wamenkomdigi juga menyoroti persaingan global di bidang teknologi, khususnya penguasaan artificial intelligence (AI) dan industri semikonduktor. Ia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi menjadi faktor penentu masa depan ekonomi negara.
Nezar menekankan, jika Indonesia hanya menjadi konsumen teknologi, maka potensi bonus demografi tidak akan memberi dampak besar bagi kemajuan nasional.
“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” kata Nezar.
Seruan penguatan STEM dan literasi digital
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Nezar mendorong generasi muda meningkatkan kemampuan di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) serta literasi digital. Ia menilai kedua aspek ini krusial agar masyarakat tidak mudah terjebak manipulasi informasi.
Wamenkomdigi juga mengajak organisasi kepemudaan dan pelajar berperan aktif membangun kemandirian teknologi nasional. Tujuannya, agar Indonesia menjadi pemain dalam industri digital global, bukan sekadar pasar atau konsumen.
“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” ujar Nezar.
Implikasi dan langkah ke depan
Pernyataan Nezar menempatkan literasi digital dan penguasaan teknologi sebagai prioritas kebijakan. Jika langkah penguatan sumber daya manusia dan investasi teknologi tidak dipercepat, risiko polarisasi sosial dan ketertinggalan teknologi bisa semakin nyata.
Ke depan, upaya memperluas akses pendidikan STEM, meningkatkan program literasi media, serta mendorong riset dan industri semikonduktor dinilai penting untuk menjaga kedaulatan digital Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...