Anak 8 Tahun di Langsa Jalani Operasi Tumor Wilms, Warga Bantu Biaya
Pagi itu, suasana di sebuah rumah di Dusun Nelayan, Gampong Sungai Pauh Pusaka, berubah haru ketika Zahratu Syita, bocah delapan tahun, bersiap menjalani operasi untuk mengangkat benjolan akibat Tumor Wilms. Keluarga membawa bocah kelas II SD Al-Qausar itu ke RS Zainoel Abidin Banda Aceh untuk tindakan medis lanjutan. Bantuan biaya keberangkatan dan pendampingan datang dari Penjabat Geuchik setempat dan Baitul Mal Kota Langsa, mengurangi beban ekonomi keluarga.
Perjalanan penyakit dan pengobatan
Zahratu pertama kali didiagnosis saat usianya empat tahun. Sejak itu keluarga menempuh berbagai pengobatan demi menyelamatkan nyawa anak sulung mereka. Pada usia lima tahun ia sempat menjalani kemoterapi dan kehilangan satu ginjal karena tindakan medis yang perlu diambil.
Namun benjolan di perutnya kembali membesar sehingga operasi lanjut diperlukan. Operasi tersebut menjadi harapan agar Zahratu dapat kembali menjalani masa kanak-kanak yang normal, bermain dan belajar seperti teman seusianya.
Bantuan warga dan kelembagaan
Dalam kondisi keterbatasan ekonomi, keluarga Zahratu menerima perhatian dari berbagai pihak. Penjabat Geuchik Gampong Sungai Pauh Pusaka bersama Baitul Mal Kota Langsa menyerahkan bantuan biaya untuk keberangkatan dan persiapan operasi.
Ketika bantuan diserahkan, suasana haru menyelimuti rumah itu. Ayah Zahratu, Mawardi, terdiam sesaat lalu menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Kiranya Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan hari ini untuk keluarga kami,” ucap Mawardi pelan.
Kebutuhan pasca-operasi dan dukungan lanjutan
Setelah operasi, Zahratu dan keluarga akan menginap di rumah singgah dekat RSZA untuk masa pemulihan. Kondisi ini menambah kebutuhan hidup di luar kampung, termasuk biaya akomodasi dan pendampingan selama proses penyembuhan.
Secara garis besar, keluarga membutuhkan dukungan untuk beberapa hal berikut:
- Biaya perjalanan dan akomodasi selama berada di Banda Aceh
- Biaya pendampingan dan kebutuhan sehari-hari selama pemulihan
Harapan dan pesan kemanusiaan
Di balik penyakit yang dideritanya, Zahratu menunjukkan ketegaran. Ia masih menyimpan harapan sederhana: bermain, bersekolah, dan menikmati masa kanak-kanak tanpa harus sering dirawat. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kepedulian komunitas dapat menyalakan harapan bagi keluarga yang berjuang.
Kedatangan bantuan bukan hanya meringankan biaya, tapi juga memberi tahu keluarga bahwa mereka tidak berjuang sendiri, dan harapan untuk kesembuhan terus dijaga bersama.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Polda Sumut Ungkap Motif Pembunuhan Wakil Rektor IT&B di Berastagi
Polda Sumut menangkap dua pelaku pembunuhan Wakil Rektor II IT&B di Berastagi. Motifnya untuk menguasai hart...
Tiorita Tinjau Perbaikan Jalan Longsor di Salapian, Langkat
Plt Bupati Langkat Tiorita Br Surbakti meninjau perbaikan jalan longsor di Salapian (29/9); Pemkab turunkan...
Wali Kota Lhokseumawe Siapkan Pendampingan Hukum untuk Keluarga Rasya
Wali Kota Lhokseumawe janjikan pendampingan hukum untuk keluarga Muhammad Rasya Fadilla dan akan menyiapkan...
DPR Minta Warga Tenang dan Percayakan Penyelidikan Kasus Mahasiswa Pelayaran
Anggota DPR Komisi V, Ghufran, menyampaikan duka atas meninggalnya mahasiswa Politeknik Malahayati dan memin...
Pemkab Aceh Besar dan BNN Sinergi Pulihkan Kawasan Rawan Narkoba
Pemkab Aceh Besar dan BNN memperkuat sinergi untuk memulihkan kawasan rawan narkoba lewat pencegahan, pember...
Labuhanbatu Gelar Bupati Cup PBSI 2026, 250 Peserta Ikut
Turnamen Bupati Cup PBSI Labuhanbatu 2026 resmi dibuka di Rantauprapat, diikuti sekitar 250 peserta dari 10...