Satgas PRR Kirim 18 Alat Berat untuk Pengerukan Sungai di Aceh Tenggara
KUTACANE, Aceh Tenggara — Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Kemendagri menyerahkan bantuan alat pengerukan sungai ke Pemerintah Aceh Tenggara pada Senin, 19 Oktober, di workshop PT. Gala Villa Mandiri.
Ringkasan bantuan
Penyerahan dilakukan untuk mendukung penanganan pascabencana hidrometeorologi di daerah itu. Satgas menurunkan total 18 unit armada alat berat serta sejumlah truk untuk keperluan operasional.
Rincian jenis dan durasi operasional
Menurut Staf Biro Umum Satgas PRR Kemendagri, Zein Fuadi, bantuan bersifat pinjam pakai dan akan dioperasikan untuk jangka waktu singkat namun intensif.
"Menurunkan 18 unit armada berupa escavator, lauder, bulldozer, greder, roller dan weter tank truk. Armada-armada ini akan beroperasi selama 20 hari kedepan,"
Ia melanjutkan bahwa selain 18 alat berat, juga diturunkan 8 unit dump truk dan 1 armada trado. Penyaluran bantuan ini merupakan tindak lanjut dari monitoring dan evaluasi tim Satgas sebelumnya.
"Selain menurunkan 18 alat berat, menurunkan juga 8 armada dump truk, dan 1 armada trado. Bantuan ini tindak lanjut dari monitoring dan evaluasi Tim Satgas PRR sebelumnya,"
Persyaratan izin dan dukungan keamanan
Bupati Aceh Tenggara, HM. Salim Fakhry MM, meminta agar pengerukan berjalan dengan dukungan penuh dari instansi terkait dan aparat keamanan. Ia menekankan perlunya koordinasi perizinan teknis sebelum pekerjaan dimulai.
"Harus didukung dari semua pihak. Bantuan ini, mesti dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya termasuk juga dengan keamanannya,"
Bupati juga menyebutkan bahwa pengerukan perlu mendapat izin dari instansi berwenang seperti BWS Sumatera I dan akan dilengkapi surat dukungan dari Forkopimda setempat.
"Pengerukan sungai yang dilakukan Satgas PRR Kemendagri nanti, akan disertakan dengan surat dukungan Forkopimda setempat. Artinya, pengerukan ini memang sangat diharap-harapkan,"
Target lokasi dan tujuan pengerukan
Operasi pengerukan akan difokuskan pada sungai-sungai yang mengalami pendangkalan untuk mengurangi risiko banjir dan memperlancar aliran air selama musim hujan.
- Sungai Alas
- Sungai Lawe Bulan
- Sungai Lawe Kinge
- Anak-anak sungai di sekitar wilayah terdampak
Tujuan utama pengerukan adalah meminimalisir kedangkalan yang dapat memperbesar risiko luapan air, sekaligus mempercepat pemulihan pascabencana.
Penempatan armada selama 20 hari diharapkan memberi dampak cepat pada kapasitas tampung sungai. Keberlanjutan langkah ini akan bergantung pada hasil pekerjaan awal dan koordinasi lanjutan antarinstansi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
AKDA Desak Polda Sumut Periksa Ketua YPDA soal Penahanan Ijazah
AKDA mendesak Polda Sumut periksa Ketua Pembina YPDA, Richard Pardede, terkait dugaan penahanan ijazah 11 ma...
Longsor Tutupi Jalan Banda Aceh–Medan di Seulimum, Aceh Besar
Longsor di Jawie, Seulimum menutup setengah badan Jalan Banda Aceh–Medan pada Senin (19/10); BPBD Aceh Besar...
Peluncuran Ruang Ayah di Banda Aceh, 100 Ayah Ikut Serta
Ruang Ayah diluncurkan di Banda Aceh 18 Oktober 2026, diikuti 100 ayah; inisiatif ini dorong peran ayah dala...
Pagelaran Seni Hari Jadi Labuhanbatu ke-81 dan Pelantikan Adat
Pemerintah Labuhanbatu gelar Malam Pagelaran Seni dan pelantikan Perhimpunan Adat pada peringatan Hari Jadi...
Longsor Tutup Jalinsum Batu Jomba Sipirok, Arus Lalu Lintas Dialihkan
Longsor menutup Jalinsum di Batu Jomba Sipirok (18/10), memaksa pengalihan arus dan penggunaan jalur alterna...
Polres Pematangsiantar Gelar KRYD Tiga Pilar untuk Redam Geng Motor
Polres Pematangsiantar menggelar KRYD tiga pilar pada 18 Oktober untuk menekan geng motor, balap liar, knalp...