Yusril: Demokrasi Harus Berlandaskan Hukum dan Etika
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan demokrasi perlu didukung supremasi hukum, etika, dan kedewasaan berpolitik. Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi (PUSAKAD) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang pada Rabu, 8 Juli 2026.
Demokrasi dan supremasi hukum
Yusril menilai pelaksanaan demokrasi tidak cukup hanya mengikuti prosedur politik. Menurutnya, kekuasaan harus tunduk pada hukum, dan praktik politik harus menjunjung kejujuran serta tanggung jawab.
"Kita tidak mungkin memaksakan kehendak kita kepada orang lain meskipun kita dalam posisi mayoritas. Kita harus merumuskan sesuatu dengan kata yang baik dan cara yang baik, bahasa itu menunjukkan bangsa, bahasa yang baik menunjukkan bangsa yang baik,"
Ia menekankan bahwa hukum dan politik saling terkait. Karena itu, pembangunan demokrasi Indonesia harus berakar pada supremasi hukum, etika, dan nilai-nilai kearifan lokal.
Teknologi, AI, dan nilai etika
Yusril juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), perlu diarahkan oleh nilai etika. Tanpa landasan etis, kemajuan teknologi berisiko menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan sosial.
Penekanan pada etika ini dimaksudkan agar inovasi teknologi tetap memberikan manfaat luas dan tidak mengikis nilai kemanusiaan dalam praktik pemerintahan dan publik.
Pesan untuk mahasiswa dan pembuat kebijakan
Pada kesempatan yang sama, Yusril memberi pesan kepada mahasiswa agar menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas saat terjun ke politik atau profesi lain. Ia mendorong generasi muda untuk merancang kebijakan yang memberi manfaat jangka panjang.
Potensi nasional dan pendidikan
Yusril menyoroti posisi strategis Indonesia dan kekayaan sumber daya alam sebagai potensi besar. Namun, ia mengingatkan pemanfaatan potensi tersebut belum optimal tanpa perbaikan sistem pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Yang paling penting adalah wilayah strategis dan kekayaan alam luar biasa yang kita miliki belum sepenuhnya kita manfaatkan. Wajah pendidikan kita harus kita ubah,"
Lebih jauh, ia menegaskan hukum nasional harus berkembang sesuai jati diri bangsa dalam bingkai negara hukum yang demokratis.
Pesan Yusril menyiratkan perlunya sinergi antara hukum, etika, kebudayaan lokal, dan pendidikan untuk menguatkan demokrasi yang bermartabat dan berdaya guna bagi masa depan bangsa.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Prabowo Jadikan PLTS 100 GWp Pilar Kemandirian Energi
Presiden Prabowo luncurkan Program PLTS 100 GWp di Bali sebagai langkah kemandirian energi, dipadukan dengan...
PU Kerahkan Pompa dan Air Tangani Karhutla di Kalteng & Malut
Kementerian PU mengerahkan pompa, personel, dan pasokan air untuk memadamkan karhutla di Kalimantan Tengah d...
Asap Karhutla Tebal, SDN 01 Sanggau Perpanjang PJJ
SDN 01 Sanggau memperpanjang PJJ hingga 28 Agustus karena kabut asap karhutla masih tebal; sekolah minta gur...
Daftar Proyek PLTS 100 GWp yang Diresmikan Presiden
Presiden meresmikan sejumlah proyek PLTS 100 GWp, dari Gilimanuk hingga pulau terpencil, mendukung elektrifi...
MenHAM Usulkan Pusat Komando Bencana NTT Dipindah ke Flores
MenHAM Natalius Pigai usulkan pusat komando tanggap darurat NTT dipindah ke Flores agar koordinasi dan distr...
Stok Beras Pemerintah 5,1 Juta Ton, Bantuan untuk NTT Berlanjut
Bapanas memastikan stok CBP mencapai 5,1 juta ton dan penyaluran bantuan beras ke NTT diperluas, total aloka...