Nasional

KLH Targetkan PSEL Selesaikan Sampah di 60–70 Kabupaten/Kota

Bagikan:
Groundbreaking PSEL di Pedungan Denpasar Selatan untuk olah sampah jadi listrik 8 Juli 2026

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur HidayatPengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk menyelesaikan masalah sampah di sekitar 60–70 kabupaten/kota. Pernyataan itu disampaikan pada groundbreaking PSEL di Kelurahan Pedungan, Denpasar Selatan, Bali, Rabu, 8 Juli 2026. Pemerintah memetakan pembangunan PSEL pada 34 aglomerasi dengan prioritas wilayah berproduksi sampah tinggi.

Target dan cakupan PSEL

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, pembangunan PSEL yang dipetakan berada pada 34 aglomerasi utama. Skema ini diproyeksikan menutupi sekitar 60–70 kabupaten/kota, sehingga persoalan sampah di wilayah tersebut dapat diatasi melalui konversi sampah menjadi listrik.

"PSEL ini yang terdata di kami kira-kira ke depannya ada 34 aglomerasi yang meng-cover sekitar 60–70 kabupaten/kota di Indonesia. Sehingga dengan PSEL ini setidaknya 60–70 kabupaten/kota selesai masalah sampahnya,"

Strategi untuk daerah dengan timbulan sampah rendah

Jumhur mengingatkan masih ada sekitar 480 kabupaten/kota dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari. Wilayah-wilayah ini tidak cocok untuk skala PSEL dan memerlukan pendekatan berbeda.

Pemerintah akan mendorong pengelolaan sampah dari sumber dengan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), menerapkan ekonomi sirkular, serta teknologi yang sesuai karakteristik lokal. Langkah ini dimaksudkan agar pengelolaan tetap berkelanjutan meski tanpa instalasi PSEL skala besar.

"Masih ada sekitar 480 kabupaten/kota yang timbulan sampahnya tidak mencapai 1.000 ton per hari. Ini tetap harus menjadi perhatian dan tanggung jawab pemerintah daerah serta secara nasional Kementerian Lingkungan Hidup,"

Proyek percontohan di Bali

Groundbreaking PSEL di Pedungan dilakukan sebagai proyek percontohan untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang telah melebihi kapasitas. Fasilitas PSEL Bali ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.200 ton sampah per hari menjadi energi listrik.

Sisanya akan dikelola melalui pendekatan 3R untuk meminimalisasi limbah akhir dan memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di kawasan tersebut.

Dukungan swasta dan pernyataan CEO

Pembangunan proyek ini mendapat dukungan dari pihak swasta, termasuk perusahaan Danantara. Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, hadir saat peletakan batu pertama dan menyebut pembangunan fasilitas di Bali sebagai langkah awal program nasional pengolahan sampah menjadi energi terbarukan.

"Tentu ini adalah hari yang sangat bersejarah karena pertama kali di dalam program Danantara terkait waste to energy. Bahwa persoalan sampah ini adalah problem kita dan harus kita selesaikan sesegera mungkin dan secepatnya,"

Rencana ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi pada aglomerasi berkapasitas besar, sementara daerah dengan volume sampah kecil diarahkan pada program 3R dan ekonomi sirkular.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait