Wamendikdasmen: WorldSkills Shanghai Cerminkan Kebutuhan Vokasi RI
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menilai WorldSkills Competition 2026 di Shanghai menjadi tolok ukur kemampuan teknis yang dibutuhkan masa depan. Pernyataan disampaikan saat pelepasan kontingen Indonesia di Jakarta, Selasa, 15 September 2026, menjelang keberangkatan 36 anggota kontingen.
WorldSkills sebagai tolok ukur keterampilan
Fajar mengatakan cabang lomba di Shanghai mencerminkan keterampilan yang kian dicari di pasar kerja. Observasi itu akan dipakai untuk mengevaluasi jurusan dan kurikulum vokasi di Indonesia.
"Ajang di Shanghai nanti akan menjadi semacam standardisasi kualitas pendidikan vokasi yang ada di Indonesia. Dari cabangnya, kita bisa meneropong keahlian yang relevan di masa depan,"
Menurutnya, hasil pemantauan pada kompetisi internasional membantu menentukan arah pengembangan kompetensi teknis di sekolah kejuruan.
Kontingen Indonesia: komposisi dan persiapan
Kontingen Indonesia berjumlah 36 orang, terdiri atas 20 kompetitor dan 16 expert yang mendampingi selama kompetisi.
- 20 kompetitor (siswa SMK yang lolos seleksi)
- 16 expert (pelatih dan pendamping teknis)
Fajar menegaskan peserta adalah talenta terbaik hasil seleksi ketat dan pembinaan intensif.
"Adik-adik telah menjadi representasi talenta muda Indonesia yang bermental juara. Kalian terpilih dari yang terbaik di antara terbaik,"
Proses seleksi dan pembinaan
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menjelaskan peserta berasal dari siswa SMK yang sebelumnya memenangkan Lomba Kompetensi Siswa di tingkat nasional.
"Mereka dipilih dari berbagai pemenang tingkat nasional kemudian menjalani pelatihan cukup panjang. Ada yang berlatih enam bulan bahkan sampai sembilan bulan,"
Pembinaan melibatkan balai vokasi, perguruan tinggi, dan industri. Mitra tersebut menyiapkan kompetitor sesuai standar kompetisi keterampilan tingkat dunia.
Relevansi vokasi di era kecerdasan buatan
Fajar menekankan perkembangan kecerdasan buatan tidak otomatis menggantikan pekerjaan teknis. Justru, kebutuhan terhadap keterampilan praktis tetap besar di berbagai sektor.
"Pekerjaan-pekerjaan teknis tidak otomatis hilang karena perkembangan kecerdasan buatan. Justru, eksistensinya akan semakin dibutuhkan di dunia pekerjaan,"
Oleh karena itu, penyesuaian jurusan dan kurikulum vokasi dianggap krusial agar lulusan siap menghadapi perubahan pasar kerja.
Capaian sebelumnya dan harapan ke depan
Indonesia sempat mengikuti WorldSkills 2024 di Lyon, Prancis, dan menempati peringkat ke-11 berdasarkan rata-rata poin medali. Di tingkat ASEAN, Indonesia hanya tertinggal dari Singapura pada ajang tersebut.
Fajar berharap hasil di Shanghai dapat meningkat dibandingkan capaian 2024, namun menegaskan nilai kompetisi tidak hanya soal medali. Peserta juga mendapatkan pengalaman belajar dari praktik terbaik internasional yang dapat dibawa pulang untuk memperkuat pendidikan vokasi.
Penyertaan di Shanghai diharapkan menjadi momen pembelajaran dan pendorong perbaikan sistem vokasi nasional, sekaligus peluang memperkuat jaringan antara dunia pendidikan dan industri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Satgas Pangan Dalami Dugaan Pelanggaran 25 Merek Beras Fortifikasi
Satgas Pangan Polri dalami dugaan pelanggaran 25 merek beras fortifikasi; pembuktian dilakukan dengan uji la...
Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi yang Tak Sesuai Label
Pemerintah menarik 25 merek beras fortifikasi karena kandungan gizi tidak sesuai label; izin dicabut dan pro...
DPR Dorong RUU Reforma Agraria Selesaikan Sengketa Pertanahan
DPR mendorong RUU Reforma Agraria untuk menyelesaikan sengketa pertanahan struktural dan memperbaiki regulas...
Pansus DPR Dorong RUU Reforma Agraria Atasi Ketimpangan Lahan
Pansus DPR mendorong RUU Reforma Agraria untuk mengurangi ketimpangan kepemilikan lahan lewat integrasi data...
Wamenkomdigi Apresiasi Teknologi Digital di Tambak Maros
Wamenkomdigi Nezar Patria memuji inovasi digital warga Maros yang memonitor tambak untuk kemandirian pangan...
Wamenkomdigi: Algoritma dan Disinformasi Jadi Ancaman
Wamenkomdigi Nezar Patria sebut algoritma, medsos, dan AI memperparah disinformasi; komunitas diminta perkua...