Wamenkomdigi: Algoritma dan Disinformasi Jadi Ancaman
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan bahwa algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan menjadi tantangan utama dalam menghadapi ledakan informasi. Pernyataan itu disampaikan saat dialog dengan pegiat Sekolah Internet Komunitas (SIK) pada acara Rural ICT Camp 2026 di Jakarta, Selasa, 15 September 2026. Menurut Nezar, arus informasi yang deras dan akses internet yang semakin merata memperbesar risiko misinformasi dan disinformasi.
Algoritma membentuk lingkungan informasi
Nezar menyorot peran algoritma dalam membentuk kebiasaan konsumsi informasi pengguna. Ia menilai algoritma media sosial cenderung menyusun konten sesuai kecenderungan individu, sehingga menciptakan ruang informasi yang sempit.
Algoritma membentuk bilik gema, echo chamber, itu sekarang yang mengatur kita. Platform-platform membuat filter bubble.
Efek ini, tambahnya, membuat pengguna lebih sulit menerima sudut pandang berbeda. Akibatnya, narasi yang menyesatkan dapat tersebar lebih cepat dan sulit ditepis.
AI memperumit tantangan verifikasi
Selain algoritma, Nezar menyebut perkembangan Artificial Intelligence (AI) memperberat tantangan. Kemampuan AI untuk membuat konten yang tampak nyata meningkatkan risiko kebingungan antara fakta dan kebohongan.
Ia menekankan bahwa tanpa kecakapan informasi, konektivitas digital justru meningkatkan paparan terhadap misinformasi dan disinformasi. Kecepatan distribusi informasi di platform digital menuntut keterampilan baru dari masyarakat.
Peran komunitas dan literasi digital
Dalam kesempatan yang sama, Nezar memberi dorongan kuat kepada pelaku komunitas digital. Ia meminta komunitas seperti SIK aktif mengedukasi publik agar mampu memilah informasi benar dan menolak narasi menyesatkan.
Konektivitas harus melahirkan meaningful connectivity, impactful connectivity, konektivitas yang bermakna, konektivitas yang berdampak. Penting sekali tugas kawan-kawan di komunitas untuk menangkal disinformasi dan misinformasi.
Dengan kata lain, investasi pada infrastruktur tidak cukup. Nezar menekankan perlunya peningkatan literasi digital sehingga akses internet membawa dampak positif bagi kualitas informasi yang diterima masyarakat.
Implikasi ke depan
Pernyataan Wamenkomdigi menegaskan urgensi kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan komunitas untuk menanggulangi ancaman algoritma dan disinformasi. Ke depan, fokus bukan hanya memperluas akses, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi.
Upaya ini dinilai penting agar konektivitas yang diperoleh dapat berujung pada manfaat nyata bagi masyarakat luas, bukan memperbesar ranah penyebaran informasi yang salah.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...