Nasional

Arjan Soroti Warisan Multatuli di Lebak dalam Buku Baru

Bagikan:
Arjan Onderdenwijngaard di peluncuran buku di Pusat Kebudayaan Belanda Jakarta

Arjan Onderdenwijngaard meluncurkan buku After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism pada 13 Agustus 2026 di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta Selatan. Buku itu menelaah perubahan sosial dan budaya masyarakat Lebak serta menanyakan kembali relevansi pemikiran Multatuli lintas generasi.

Peluncuran dan tujuan buku

Acara peluncuran menghadirkan diskusi yang mengaitkan literatur, film, dan kajian sejarah untuk meninjau ingatan kolektif tentang Max Havelaar. Penerbit terjemahan bahasa Indonesia adalah Marjin Kiri. Buku ini bertujuan menguji sejauh mana warisan kritik sosial Multatuli masih menyentuh isu ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan hari ini.

Kunjungan balik ke Lebak

Arjan, yang kini berdomisili di Depok, kembali ke Lebak setelah sekitar 32 tahun. Kunjungan itu melibatkan pertemuan dengan sejumlah warga yang pernah dikenalnya, untuk membandingkan kondisi sosial dari masa ke masa. Pengalaman lapangan tersebut menjadi bahan penting dalam penulisan dan penerjemahan buku.

Temuan utama dan perspektif penulis

Buku ini menyajikan potret sosiologis dan budaya tentang bagaimana figur Multatuli dan karya-karyanya berkembang dalam ingatan masyarakat Indonesia modern. Arjan mempertanyakan kemampuan generasi sekarang memahami dan meneruskan semangat kritik terhadap struktur kekuasaan lokal dan warisan kolonial.

"Apakah generasi sekarang yang membaca Max Havelaar masih terinspirasi melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan seperti pendahulunya dahulu?"

Arjan menekankan bahwa pembacaan ulang pemikiran lama menjadi penting untuk memahami persoalan sosial kontemporer. Menurutnya, pergeseran makna terhadap tokoh dan karya tersebut terjadi seiring bergantinya generasi.

Tanggapan Pusat Kebudayaan Belanda

Plt. Pusat Kebudayaan Belanda, Stijn Kuipers, menyatakan bahwa buku ini membuka ruang untuk meninjau kembali warisan Max Havelaar dalam konteks modern. Peluncuran dipandang sebagai upaya mendorong dialog lintas disiplin dan negara.

"Buku tersebut kembali merenungkan bagaimana pertanyaan-pertanyaan di dalamnya mengenai ketidakadilan, kekuasaan, dan masyarakat masih tetap relevan hingga kini,"

"Pertukaran gagasan yang terbuka dan mendalam seperti ini merupakan inti dari peran Erasmus Huis untuk mendorong dialog dan pemahaman antara kedua negara,"

Rangkuman

After Multatuli Left menyodorkan kajian yang menghubungkan sejarah, budaya, dan praktik kekuasaan lokal. Buku ini mengajak pembaca menilai kembali warisan sastra kritis untuk memahami tantangan sosial masa kini di Lebak dan Indonesia.

  • Penulis: Arjan Onderdenwijngaard
  • Judul: After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism
  • Penerbit (terjemahan): Marjin Kiri
  • Peluncuran: 13 Agustus 2026, Pusat Kebudayaan Belanda (Erasmus Huis), Jakarta Selatan
Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait