Lokal

Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar Kunjungi Basecamp Aceh Foundation

Bagikan:
Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar disambut peusijuek di Basecamp Aceh Foundation Idi Cut

IDI CUT, Aceh Timur — Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Malik Mahmud Al Haytar, mengunjungi Basecamp Aceh Foundation di Idi Cut, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur, pada Senin (28/9). Kunjungan dilakukan sebagai bentuk silaturahmi dengan mantan kombatan dan tokoh masyarakat, diwarnai penyambutan adat peusijuek dan perbincangan tentang kondisi sosial-ekonomi pasca bencana.

Kunjungan dan penyambutan

Pada kedatangannya, Wali Nanggroe disambut oleh Staf Khusus Gubernur Aceh, Faisal Riza Hasan. Ritual adat peusijuek dipimpin oleh Tgk Muhammad Salihin dan Tgk Zikrul Falaq sebagai bagian dari tradisi menyambut tokoh yang baru tiba.

Acara berlangsung hangat dan singkat, dengan interaksi langsung antara Wali Nanggroe dan warga di lokasi Basecamp Aceh Foundation. Para tamu tampak antusias mengikuti prosesi adat yang kembali digelar di pedalaman Aceh Timur.

Pesan Wali Nanggroe

Wali Nanggroe menyampaikan kondisi kesehatannya kepada hadirin. Ia mengaku beberapa pekan terakhir mengalami penurunan kesehatan tetapi tetap melakukan kunjungan ke masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab.

"Saat ini saya masih berobat jalan, tapi demi masyarakat dan rakyat saya tetap mengunjungi dan melihat masyarakat di seluruh Aceh,"

Ia juga menyatakan kerinduan dan kasih sayang kepada mantan kombatan GAM serta masyarakat Aceh. Menurutnya, kebersamaan dan kekompakan menjadi modal penting dalam membangun Aceh ke depan.

"Oleh karenanya, lestarikan budaya dan adat istiadat ini hingga menjadi warisan untuk anak cucu kita,"

Kehadiran tokoh dan tujuan silaturahmi

Acara dihadiri sejumlah eks Tripoli, Panglima Sagoe, mantan kombatan GAM, mantan TNA yang tergabung dalam Komite Peralihan Aceh (KPA), serta tamu undangan lain. Kehadiran mereka menunjukkan upaya memperkuat jaringan sosial di tingkat lokal.

  • Eks Tripoli
  • Panglima Sagoe
  • Mantan kombatan GAM dan mantan TNA (KPA)
  • Tokoh masyarakat setempat

Faisal Riza Hasan menyebut kunjungan itu sebagai bentuk silaturrahmi Wali Nanggroe dengan jajaran KPA dan tokoh masyarakat. Ia menambahkan bahwa prosesi tepung tawar biasa dilakukan untuk menyambut tokoh yang kembali dari perawatan di luar negeri.

"Tepung tawar ini merupakan adat istiadat Aceh dalam menyambut orangtua yang baru kembali dari Luar Negeri dalam rangka berobat,"

Konsekuensi sosial dan harapan ke depan

Wali Nanggroe menyinggung kondisi ekonomi pasca banjir yang belum sepenuhnya pulih. Namun ia optimis masyarakat Aceh dapat bangkit mengingat pengalaman panjang konflik yang telah dilewati sebelumnya.

Kunjungan ini diharapkan memberi dorongan moral bagi mantan kombatan dan masyarakat lokal, serta memperkuat semangat gotong royong dalam upaya pemulihan dan pembangunan Aceh.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait