Teknologi

Garudafood dan UB Uji Coba Pupuk Hayati untuk Petani Kacang

Bagikan:

Garudafood dan Universitas Brawijaya meluncurkan uji coba pupuk hayati untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas panen kacang tanah. Program yang diumumkan pada 1 Oktober 2026 di Auditorium Widyaloka, UB, Malang, telah memasuki musim tanam kedua hingga September 2026 dengan luas lahan percobaan seluas 625 meter persegi.

Detail uji coba dan tujuan

Uji coba ini merupakan kolaborasi antara Garudafood dan Fakultas Teknologi Agroindustri serta Biosistem Universitas Brawijaya. Tujuannya untuk menemukan solusi aplikatif yang meningkatkan hasil panen sekaligus mendukung kesejahteraan petani mitra.

Garudafood saat ini bermitra dengan lebih dari 460 petani kacang. Jika biofertilizer terbukti efektif, model tersebut direncanakan dikembangkan dan direplikasi pada lahan yang lebih luas.

Kuliah umum dan partisipasi mahasiswa

Kegiatan tersebut disampaikan dalam rangka kuliah umum program Sahabat Inspirasiku yang bekerjasama dengan Trans7 Mengajar. Acara dihadiri oleh lebih dari 350 mahasiswa lintas fakultas dan mengangkat tema "Creativity and Leadership".

Direktur Garudafood, Fransiskus Johny Soegiarto, menekankan pentingnya kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi untuk menyelesaikan persoalan di lapangan serta menerapkan inovasi secara nyata.

"Teknologi adalah alat untuk menghadirkan produktivitas, ketangkasan. Bahkan keberlanjutan bisnis," ujar Fransiskus.

"Mulailah dari masalah di sekitar, lalu belajar menyelesaikannya dengan data dan kolaborasi," tambahnya.

Transformasi digital dan keberlanjutan

Di sela kuliah umum, Fransiskus juga memaparkan transformasi digital yang dijalankan perusahaan. Garudafood memanfaatkan sistem terintegrasi, data, otomasi, dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengambilan keputusan dan efisiensi operasional.

Perusahaan melaporkan beberapa capaian keberlanjutan yang menjadi bagian strategi operasional:

  • Konsumsi energi baru terbarukan meningkat 117% sepanjang 2025.
  • Bauran energi terbarukan mencapai 10,24% dari total konsumsi energi.
  • Penurunan intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 9,21%.
  • Pemanfaatan kembali 99% limbah organik sisa produksi.

Di sisi hulu, kemitraan Garudafood juga mencakup lebih dari 4.400 peternak sapi perah, selain petani kacang.

Dampak dan prospek ke depan

Pihak universitas menilai inisiatif ini memberikan peluang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dan potensi solusi praktis bagi petani. Sekretaris Universitas Brawijaya, Tri Wahyu Nugroho, menyatakan kegiatan memberi wawasan tentang kreativitas dan kepemimpinan yang penting bagi kesiapan kerja mahasiswa.

Jika uji coba biofertilizer menunjukkan hasil positif, langkah selanjutnya adalah skala uji coba ke lahan lebih luas dan integrasi hasil riset ke program kemitraan Garudafood. Program ini juga menjadi bagian dari upaya Garudafood di bidang pendidikan melalui program Garudafood Sehati.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait