Teknologi

Pakar Kupas Kiat Retensi Memori dan Bahaya Begadang di IIBF

Bagikan:

Pakar pendidikan dan psikologi membahas kiat mempertahankan memori dan menerapkan hukum Jost untuk efektivitas belajar jelang ujian pada 1 Oktober 2026. Acara berlangsung di Panggung Utama Indonesia International Book Fair (IIBF), Jakarta International Convention Center (JICC), dan dihadiri ratusan pelajar.

Hukum Jost: frekuensi lebih penting daripada durasi tunggal

Psikolog anak dan remaja Wikan Putri Larasati menjelaskan bahwa pembagian waktu belajar yang konsisten meningkatkan retensi jangka panjang. Ia menekankan bahwa mengulang materi secara berkala membantu memperkuat koneksi saraf sehingga informasi lebih mudah diingat.

Jadi dengan misalnya total 15 jam belajar, kalau kita break-nya menjadi 3 jam per hari selama 5 hari, itu lebih baik dibanding kita belajar 5 jam dalam kurun waktu 3 hari. Ya, jadi itu namanya teori hukum Jost mengatakan bahwa lebih baik frekuensinya yang ditambah karena proses tadi kita mengulang kembali,

Itu yang bikin di sini nih kita prosesnya jadi semakin nempellah kurang lebih kayak gitu. Kita mungkin tergoda, 'Oh mau dari pagi sampai malam nih belajar,' gitu ya.

Bahaya begadang terhadap kemampuan kognitif

Diskusi menyoroti dampak negatif begadang pada kemampuan memori dan proses kognitif. Menurut para pembicara, kelelahan fisik dan pola istirahat yang buruk merusak fungsi metabolisme dan melemahkan daya tangkap siswa.

Jam 03.00 ya atau jam 04.00 lah paling telat, itu belajar. Entah itu sejam mungkin seperti yang tadi dikatakan, yang penting frekuensinya banyak, 5 hari gitu loh, jangan sampai 3 hari tapi ya 2 jam, 3 jam gitu, sehingga otak kita ada keterbatasan,

Pengalaman pelajar: konsistensi mengalahkan begadang

Farelevi Alfasahbary, mahasiswa ITB yang meraih nilai TKA tertinggi 2025, membagikan pengalaman praktisnya. Ia menegaskan bahwa menjaga stamina dan ritme belajar sehari-hari lebih efektif untuk memori jangka panjang dibanding belajar semalaman.

Karena belajar begadang itu enggak bagus untuk kesehatan yang pertama, dan yang kedua itu enggak bisa untuk memori jangka panjang. Jadi gimana belajarnya? Ya, konsisten setiap hari 1 jam, 2 jam, itu lebih baik,

Jadi untuk ritme belajar, yang penting konsisten, tahu tujuan kalian tuh belajar tuh untuk apa. Jadi gini, belajar tuh jangan jadikan sebuah paksaan gitu,

Rekomendasi praktis untuk pelajar

  • Atur frekuensi belajar: sesi pendek setiap hari lebih efektf daripada sesi panjang jarang.
  • Jaga jam tidur dan hindari begadang mendekati ujian.
  • Sisipkan waktu istirahat untuk pemulihan fisik dan konsentrasi.
  • Tentukan tujuan belajar agar proses tidak menjadi beban mental.

Ketua MGMP Matematika SMA DKI Jakarta Iman Santoso juga menekankan pentingnya pemulihan sel tubuh untuk menjaga fokus. Para pakar sepakat: ritme belajar yang stabil dan istirahat yang cukup meningkatkan kesiapan mental dan hasil ujian. Pelajar dianjurkan segera menata ulang pola belajar harian untuk hasil yang lebih optimal.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait