UNY Hilirisasi Ubi Talas Jadi Produk Pangan Modern
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar program hilirisasi ubi talas di Padukuhan Padaan Ngasem, Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo. Kegiatan berbentuk Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertujuan mengubah talas lokal menjadi produk pangan bernilai ekonomi dan meningkatkan kapasitas usaha kelompok wanita tani (KWT).
Program dan tujuan
Program PkM ini menargetkan pengembangan produk olahan talas sekaligus pembekalan pengelolaan usaha kepada anggota KWT. Tim dari UNY memberi pelatihan mulai dari teknik pengolahan hingga strategi pemasaran. Tujuannya agar talas tidak lagi hanya dijual mentah, melainkan menjadi produk siap jual bernilai tambah.
Potensi KWT dan kondisi awal
KWT Ngasem Mandiri yang diketuai oleh Iswanti beranggotakan sekitar 30 orang. Kelompok ini memiliki potensi talas sekitar 200 kilogram, berasal dari kebun kelompok dan kebun anggota. Selama ini, talas umumnya dijual mentah dengan harga Rp5.000 per kilogram atau diolah sederhana dengan cara direbus.
Pelatihan pengolahan: dari talas ke produk modern
Pada sesi produksi, anggota KWT mempraktikkan beberapa resep inovatif untuk menunjukkan fleksibilitas talas. Produk yang dilatih antara lain:
- Mochi talas
- Pie brownies talas
- Banana bread talas
Latihan ini dimaksudkan agar peserta mampu menghasilkan produk yang sesuai preferensi pasar modern dan berpotensi dipasarkan lebih luas.
Pendampingan produksi dan pengelolaan usaha
Selain teknik olahan, tim UNY juga mendampingi aspek manajerial. Materi mencakup pemilihan bahan baku, pengolahan higienis, standardisasi resep, konsistensi rasa, penyajian, hingga pengemasan produk. Pelatihan usaha mencakup pencatatan transaksi, penghitungan biaya produksi, penetapan harga jual, dan strategi pemasaran.
"Program ini memperkuat kemampuan mereka dalam menjaga kualitas produk. Juga menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, mencatat transaksi, mengembangkan kemasan, dan memasarkan produk,"
Dampak dan prospek
Melalui keterlibatan langsung dalam tiap tahapan, anggota KWT diharapkan mampu menjalankan usaha mandiri. Hilirisasi ini membuka peluang peningkatan pendapatan anggota dan memperkenalkan talas sebagai bahan pangan alternatif bernilai ekonomi. Jika berhasil, model pendampingan serupa dapat direplikasi di kelompok lain untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...