UMKM Solo Angkat Budaya Lewat Fashion & Souvenir Batik
Pelaku UMKM di Solo, Jawa Tengah mengangkat identitas budaya setempat melalui produk fashion dan souvenir berbasis batik dan wayang. Inisiatif ini ditunjukkan oleh pemilik Ting Celenik by YP dan Godhong Batik, Yuni Tugas Ambarwati, yang memadukan motif tradisional dengan desain modern untuk memperluas jangkauan pasar. Pernyataan itu disampaikan saat dialog pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Motivasi dan tujuan
Yuni—yang akrab disapa Yuyun Pinongko—menilai kekayaan budaya Solo punya potensi besar untuk terus dikenalkan. Ia berharap produk budaya lokal tetap hidup dan diminati, khususnya oleh generasi muda.
"Awal mulanya, saya kan tinggal di Jawa Tengah, tepatnya di Solo ya. Saya melihat budaya Solo itu beraneka ragam dan etnik sekali, terutama mengenai wayang sama batik," ujar Yuyun.
Dia menegaskan niatnya untuk memperkenalkan warisan lokal agar dikenal luas, baik oleh anak muda sekarang maupun generasi mendatang.
Inovasi produk: tradisi bertemu tren
Dalam pengembangan produk, Yuni melakukan inovasi agar batik dan motif wayang tetap relevan. Ia mengadaptasi bentuk, kombinasi kain, dan gaya sehingga cocok untuk berbagai segmen pasar tanpa meninggalkan nilai tradisional.
"Saya ingin mengangkat budaya lokal biar semakin dikenal, baik untuk anak muda yang sekarang ini ataupun untuk generasi mendatang," kata Yuyun.
Pendekatan yang dipakai antara lain memadukan motif wayang pada kain batik dengan elemen wastra lain seperti tenun dan lurik. Hasilnya adalah produk yang punya identitas kuat sekaligus tampil kontemporer.
Varian souvenir dan fashion
Produk wayang dikembangkan tidak hanya dalam bentuk tradisional. Beberapa varian yang diproduksi antara lain:
- Souvenir kecil seperti gantungan kunci dengan motif wayang.
- Pakaian dan aksesori yang menempelkan motif wayang pada kain batik.
- Perpaduan batik dengan tenun atau lurik untuk tampilan lebih modern.
Strategi ini memungkinkan produk dipasarkan ke wisatawan, kolektor, serta konsumen muda yang mencari produk lokal bernilai estetika dan cerita budaya.
Prospek dan implikasi
Upaya Yuni mencerminkan gerak yang lebih luas di kalangan UMKM Solo: menjadikan budaya sebagai nilai jual. Jika terus didukung dengan inovasi desain dan pemasaran, produk batik-wayang berpotensi meningkatkan daya tarik pariwisata budaya serta mendorong ekonomi lokal.
Ke depan, kolaborasi antar perajin, desain yang lebih adaptif, dan kanal pemasaran digital bisa mempercepat penerimaan produk budaya di pasar domestik dan internasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...
IHSG Diprakirakan Konsolidasi Menjelang Data Inflasi 1 Okt 2026
Pelaku pasar menunggu data inflasi BPS (1 Okt 2026); IHSG diperkirakan konsolidasi di kisaran 6.000-6.200 se...
Rupiah Menguat ke Rp17.894 Didukung Komitmen BI dan Harapan AS-Iran
Rupiah ditutup menguat 0,48% ke Rp17.894 per dolar AS, didorong pernyataan BI soal instrumen stabilisasi dan...