Aksi Tolak Pinjaman Rp786 Miliar di Jember Memanas, Polemik Kepala Desa
JEMBER — Aksi menolak rencana Pemerintah Kabupaten Jember meminjam Rp786 miliar lewat skema LKBB memanas di gedung DPRD Jember, Senin (10/8/2026). Massa menuntut pembatalan karena khawatir menambah beban APBD, sementara sejumlah kepala desa datang untuk menyatakan dukungan. Ketegangan berujung laporan dugaan pencekikan ke polisi dan perbedaan sikap yang semakin tajam di tengah masyarakat.
Aksi dan tuntutan massa
Forum Komunikasi Masyarakat Cinta Jember (FKMCJ) memimpin unjuk rasa dan meminta Bupati Muhammad Fawait membatalkan rencana pinjaman. Para pengunjuk rasa mendesak DPRD berpihak pada warga dan menolak penambahan utang daerah yang akan membebani anggaran jangka panjang.
Koordinator aksi, Jumantoro, menegaskan agar DPRD menilai ulang opsi pembiayaan tersebut.
Kalau DPRD berpihak kepada rakyat, benahi tata kelola pembangunan
Penolakan dari fraksi PDIP
Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember menyatakan sikap menolak rencana pinjaman. Sekretaris fraksi, Alfan Yusfi, ikut menandatangani petisi FKMCJ saat perwakilan massa diterima beberapa anggota dewan di ruang Badan Musyawarah.
Alfan mengingatkan pemerintah menghitung kemampuan APBD secara matang, termasuk beban bunga selama masa pelunasan yang diperkirakan panjang.
Butuh waktu 10 sampai 15 tahun untuk mengembalikan utang berikut bunganya. Karena itu, pemerintah sebaiknya berpikir kembali untuk melanjutkan rencana pinjaman tersebut
Insiden pencekikan dan laporan ke polisi
Ketegangan meningkat saat seorang peserta aksi, Achmad Busairi, melapor bahwa ia dicekik oleh seorang kepala desa saat menyampaikan aspirasi. Busairi meminta agar dugaan intimidasi itu diusut secara hukum dan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Jember setelah aksi berakhir.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak yang dituding terkait laporan tersebut.
Dukungan sejumlah kepala desa
Pada waktu bersamaan, rombongan kepala desa datang ke DPRD untuk mengikuti rapat dengar pendapat soal rencana pinjaman Rp786 miliar. Mereka menyatakan mendukung rencana pembiayaan yang diajukan pemerintah kabupaten.
Perbedaan sikap ini menunjukkan adanya tarik-menarik kepentingan antara aktivis, sebagian perangkat pemerintahan desa, dan wakil rakyat.
Dampak dan prospek
Polemik ini membuka pertanyaan soal prioritas anggaran dan mekanisme pengambilan keputusan di tingkat daerah. Sumber defisit APBD menurut oposisi masih dapat diatasi lewat efisiensi dan realokasi anggaran di sejumlah OPD sebelum memilih opsi pinjaman.
Ke depan, DPRD dan Pemkab Jember harus mempertimbangkan kemampuan fiskal jangka panjang serta menjawab kekhawatiran publik agar rencana pembiayaan tidak menimbulkan beban yang berkepanjangan bagi masyarakat.
Catatan: FKMCJ adalah gabungan sejumlah LSM lokal, termasuk Laskar Jahanam dan Badan Intelijen Anti Korupsi (BIAK).
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Rejotangan Fun Trail Run Promosi Desa Wisata Gunung Gamping
Erma Susanti mendukung Rejotangan Fun Trail Run di Gunung Gamping (9/8/2026) sebagai promosi desa wisata dan...
Soekarno Cup 2026: Panggung Talenta Muda dari 16 Provinsi
Soekarno Cup 2026 di Surabaya menghadirkan 16 provinsi, fokus pada pembinaan talenta usia 17 sebagai cikal b...
Surabaya Jadi Tuan Rumah Pembukaan Soekarno Cup 2026
Soekarno Cup 2026 dibuka di Surabaya pada 10 Agustus 2026, menegaskan makna historis dan misi pembinaan gene...
Banteng Bali Adaptasi di Surabaya, Target Juara Soekarno Cup
Banteng Bali tiba di Surabaya sejak 5 Agustus untuk adaptasi mental dan taktik, menargetkan juara Soekarno C...
PDI Perjuangan Sumenep Gelar Rakorcab Jelang Musran dan Musanran
DPC PDI Perjuangan Sumenep menggelar Rakorcab 9 Agustus 2026 untuk mematangkan persiapan Musran dan Musanran...
Papua Raya ke Soekarno Cup: Skuad U-17 Tempuh 6 Jam ke Surabaya
Skuad U-17 Papua Raya menempuh 6 jam perjalanan ke Surabaya untuk ikut Soekarno Cup 2026, fokus pada pembina...