DPRD Minta Perbaiki Tata Kelola Pupuk Bersubsidi di Jember
JEMBER — Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, meminta Dinas Pertanian memperbaiki tata kelola pupuk bersubsidi agar semua petani yang memenuhi ketentuan mendapat haknya. Permintaan itu disampaikan Rabu, 9 September 2026, terkait masalah yang masih terjadi pada komoditas seperti tembakau dan kopi.
Masalah penyaluran dan pendataan pupuk
Candra menilai pendataan dan input data petani masih belum optimal. Akibatnya, penyaluran pupuk dan penyerapan di lapangan tidak berjalan maksimal. Ia mendorong Dinas Pertanian melakukan perbaikan administrasi dan memperkuat sosialisasi kepada petani.
"Dinas Pertanian harus lebih optimal melakukan input dan sosialisasi terkait pupuk agar semua petani yang lahannya mendapatkan subsidi pupuk bisa terakomodasi."
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah masalah berulang di musim tanam berikutnya. Tanpa pendataan yang akurat, kebutuhan riil petani sulit teridentifikasi.
Dampak pada kopi dan tembakau
Menurut Candra, keluhan soal akses pupuk juga muncul dari petani kopi tegalan. Kurangnya akses berpotensi menurunkan produktivitas.
Selain itu, masalah tidak hanya pada sarana produksi. Penyerapan hasil panen tembakau juga bermasalah karena tidak semua gudang mau menyerap panen petani. Hal ini mengancam kesejahteraan petani pada saat panen.
"Perda Nomor 7 Tahun 2023 sudah mengatur soal pembelian tembakau. Tetapi dengan perda ini belum cukup menguatkan agar hasil panen petani tembakau dapat terserap oleh gudang."
Peran Kemitraan Usaha Tani Jember (KUTJ)
Candra meminta pemerintah daerah mengintensifkan peran KUTJ untuk memperkuat relasi antara petani dan pasar. KUTJ dapat menjadi fasilitator dalam penyambungan antara produksi dan gudang atau pembeli.
Dengan mekanisme kemitraan yang lebih kuat, petani diharapkan mendapat kepastian pasar dan harga saat panen tiba.
Rekomendasi dan langkah ke depan
Candra menekankan bahwa ketersediaan pupuk saja tidak cukup. Perbaikan harus menyentuh tata kelola distribusi, pendataan petani, hingga pendampingan teknis di lapangan.
Pemerintah daerah diminta menyusun langkah terintegrasi: pembaruan data petani, perbaikan sistem distribusi, peningkatan sosialisasi, dan penguatan kemitraan pasar. Jika dijalankan beriringan, peluang penyaluran pupuk dan penyerapan hasil panen akan meningkat.
Perbaikan tata kelola tersebut dinilai krusial agar petani kopi dan tembakau mendapatkan kepastian produksi dan pasar, sehingga produktivitas dan pendapatan petani dapat terjaga.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
ASN Blitar Kerja Bakti di Pasar lewat Gerakan ASRI
ASN Blitar dikerahkan dalam Gerakan ASRI untuk membersihkan Pasar Kanigoro dan Sutojayan pada 30 Oktober 202...
Novita Hardini Ajak Pemuda Trenggalek Manfaatkan Peluang Industri Gim
Novita Hardini mendorong pemuda Trenggalek mengubah hobi jadi profesi lewat industri gim untuk menciptakan k...
Novita Dorong Pemuda Trenggalek Manfaatkan Industri Gim
Novita Hardini ajak pemuda Trenggalek kembangkan keterampilan industri gim agar hobi jadi karya bernilai eko...
Bupati Sumenep Ajak Teladani Leluhur dalam Ziarah Hari Jadi ke-757
Bupati Sumenep pimpin ziarah di Asta Tinggi pada Hari Jadi ke-757 dan ajak masyarakat meneladani perjuangan...
DPRD Jember Teruskan 18 Tuntutan Mahasiswa, Tak Bisa Hentikan Tapera
DPRD Jember akan meneruskan 18 tuntutan mahasiswa ke pusat, namun tak berwenang menghentikan Tapera dan prog...
Ketua Komisi E Usulkan AI untuk Menghidupkan Wayang ke Generasi Muda
Ketua Komisi E Jatim usulkan AI untuk menghidupkan wayang agar lakon dan nilai budaya lebih mudah dijangkau...