Sultan Hasanuddin: Perlawanan terhadap VOC dan Julukan 'Ayam Jantan'
Sultan Hasanuddin, penguasa Kerajaan Gowa pada abad ke-17, memimpin perlawanan menentang upaya VOC menguasai perdagangan Makassar. Lahir pada 1631 dan wafat 12 Juni 1670, ia dikenal dengan julukan 'Ayam Jantan dari Timur' karena keberanian dan keteguhannya. Konflik ini memuncak dalam Perang Makassar dan berujung pada penandatanganan Perjanjian Bungaya pada November 1667.
Latar: Makassar dan Ambisi VOC
Makassar pada masa itu merupakan pelabuhan strategis yang menjadi titik pertemuan para pedagang. Posisi ini membuatnya menjadi target utama VOC untuk memperluas monopoli perdagangan di kawasan timur Nusantara. Sultan Hasanuddin menolak klaim penguasaan tersebut dan mempertahankan hak Kerajaan Gowa mengatur perdagangan dan hubungan luar.
Perang Makassar dan Perlawanan Sultan Hasanuddin
Sikap Gowa berujung pada perseteruan berskala militer antara pasukan kerajaan dan VOC. Konflik tidak hanya melibatkan VOC, tetapi juga kekuatan lokal seperti Arung Palakka dan Bone-Soppeng yang berpihak pada Belanda. Perlawanan Sultan Hasanuddin menunjukkan bahwa pertarungan itu soal kedaulatan, bukan sekadar merebut wilayah dagang.
"Bila kami diserang, kami akan mempertahankan diri, dan kami akan menyerang kembali, dengan segala kemampuan yang ada".
Kutipan tersebut menggambarkan tekad Hasanuddin untuk tidak menyerah pada tekanan asing. Meski menghadapi lawan yang semakin kuat, ia berupaya menjaga kemerdekaan politik dan kebebasan menentukan kebijakan perdagangan Gowa.
Perjanjian Bungaya dan Perlawanan yang Berlanjut
Tekanan militer memaksa Gowa menandatangani Perjanjian Bungaya pada November 1667. Namun perjanjian itu tidak segera menutup perlawanan. Kelompok di dalam kerajaan menilai ketentuan perjanjian merugikan Gowa, sehingga konflik kembali meletus pada 1668 dan berlanjut hingga posisi Gowa semakin terdesak.
Kekalahan dalam rangkaian perang akhirnya mengubah peta kekuasaan dan perdagangan di Sulawesi Selatan. VOC memperkuat dominasi mereka di timur Nusantara, sementara pengaruh politik dan ekonomi Gowa menurun secara signifikan.
Warisan dan Pengakuan
Meskipun tidak mampu mempertahankan seluruh kekuatan politik Gowa, keberanian Sultan Hasanuddin menjadikannya figur penting dalam sejarah perlawanan terhadap kekuatan kolonial. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1973.
Nama dan jejak Hasanuddin tetap hidup dalam berbagai simbol publik. Salah satu contohnya adalah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, serta penggunaan namanya pada institusi pendidikan dan fasilitas umum di berbagai daerah.
- KPU Papua Pegunungan
- Pusmendik Kemendikdasmen
Sultan Hasanuddin dikenang bukan hanya sebagai raja Gowa, melainkan sebagai simbol perlawanan dan kedaulatan yang memberi arti penting dalam memori sejarah nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...