Politik

Soekarno: Olahraga sebagai Revolusi dan Wajah Bangsa

Bagikan:
Soekarno berbicara tentang olahraga sebagai bagian dari revolusi dan diplomasi negara

Soekarno menempatkan olahraga sebagai bagian dari revolusi nasional yang membentuk manusia Indonesia baru, alat diplomasi, dan wadah solidaritas negara-negara berkembang. Pernyataan dan kebijakan presiden pada 1961–1964—termasuk Keputusan Presiden Nomor 263/1963 dan dokumen Departemen Olahraga 1964—menegaskan peran olahraga lebih luas daripada sekadar pertandingan dan prestasi.

Manusia Indonesia baru dan pendekatan sains olahraga

Bagi Soekarno, olahraga berfungsi untuk membentuk karakter dan kekuatan jasmani serta rohani rakyat. Olahraga menjadi bagian dari nation and character building dalam kerangka revolusi nasional yang menyentuh semua aspek kehidupan.

Presiden mendukung pendekatan ilmiah untuk mengembangkan prestasi olahraga. Keputusan Presiden 263/1963 mendorong pembinaan fisik terpadu, pengembangan teknik, dan pembinaan mental juara. Menteri Olahraga waktu itu, Maladi, menjelaskan pentingnya sistem talent scouting, riset, psikologi olahraga, sport medicine, serta pelatih dan fasilitas yang memadai.

Soekarno juga memandang atlet potensial harus dipelajari dan dibina sejak dini. Ia merekomendasikan kompetisi kelompok umur sebagai sarana pengembangan bakat:

  • Usia 11–13 tahun
  • Usia 13–15 tahun
  • Usia 15–17 tahun

Sportivitas di atas kemenangan

Soekarno menekankan bahwa kemenangan tanpa sportivitas kehilangan nilai moral. Prestasi harus lahir dari watak mulia, bukan dari cara-cara curang atau merugikan negara.

"Djangan misalnja, sepak bola kita mentjari prestasi tinggi dengan mendjegal! Lebih baik kita kalah, tapi budipekerti tinggi, daripada kita menang tapi budipekerti bedjat."

Olahraga sebagai soft power dan kebanggaan internasional

Pada pidato di Bandung 9 April 1961 Soekarno menyatukan agenda sains, olahraga, dan politik untuk menegaskan kembalinya Indonesia di panggung internasional. Ketiga agenda itu adalah peletakan batu pertama reaktor atom, inspeksi sport center persiapan Asian Games dan Thomas Cup, serta sidang solidaritas Asia-Afrika.

Peran ini terwujud nyata saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Pembangunan fasilitas di Jakarta menjadikan negara pusat perhatian Asia dan negara-negara yang baru merdeka.

Ganefo: solidaritas dan alternatif tata olahraga internasional

Soekarno menginisiasi Games of the New Emerging Forces (Ganefo) sebagai reaksi atas kebijakan politik dalam olahraga internasional. Ganefo digelar di Jakarta pada 10–22 November 1963 dan diikuti 51 negara, sebagai alternatif terhadap Olimpiade yang dinilai dikuasai kepentingan imperialis.

"Alasan tudjuan daripada Ganefo pertama ini dan selandjutnja adalah untuk membangun satu dunia baru jang hidup dalam persaudaraan, persahabatan, dan intinja harmoni."

Keputusan IOC yang mengeluarkan Indonesia dari keanggotaan pada Februari 1963 mempertegas bahwa olahraga dan politik sulit dipisahkan. Soekarno menilai sikap apolitis seringkali merupakan bentuk keberpihakan pada ketidakadilan.

Warisan pemikiran Soekarno menyodorkan pandangan bahwa lapangan olahraga mencerminkan bangsa yang ingin dibangun dan dunia yang ingin diperjuangkan. Di tengah arus komersialisasi modern, warisan ini mengingatkan bahwa olahraga juga adalah soal karakter, diplomasi, dan keadilan global.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait