Singapura Tetap Jadi Sumber PMA Terbesar, Realisasi Investasi Q1 2026 Rp498,8T
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyatakan Singapura masih menjadi negara asal Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar ke Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat paparan realisasi investasi triwulan pertama 2026 dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.
Negara asal investasi teratas
Rosan memaparkan peringkat negara asal PMA yang masuk ke Indonesia pada triwulan pertama 2026. Posisi pertama ditempati Singapura, diikuti Hong Kong sebagai hub bisnis global, lalu Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang.
“Dari asal negara masih dipimpin Singapura di tempat pertama. Hong Kong sebagai hub bisnis global, diikuti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang,”
Selain negara-negara tersebut, Rosan mencatat ada pula investasi yang datang dari kawasan Eropa, termasuk Inggris dan Belanda.
Realisasi investasi triwulan I 2026
BKPM melaporkan realisasi investasi pada triwulan pertama 2026 mencapai Rp498,8 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sekitar 7,2 persen dibanding periode yang sama sebelumnya dan telah memenuhi 24,4 persen dari target investasi tahun 2026.
Kontribusi PMDN vs PMA
Rincian kontribusi menunjukkan komposisi hampir seimbang antara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan PMA. PMDN tercatat menyumbang Rp248,8 triliun atau 49,9 persen dari total, sementara PMA memberikan kontribusi sebesar Rp250 triliun atau 50,1 persen.
“PMDN menyumbang 49,9 persen atau Rp248,8 triliun (tumbuh 6 persen). PMA berkontribusi 50,1 persen atau sebesar Rp250 triliun,”
Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja
Rosan menegaskan realisasi investasi tersebut memiliki dampak pada penciptaan lapangan kerja. Total penanaman modal pada triwulan pertama 2026 dilaporkan menyerap sekitar 700 ribu tenaga kerja langsung, menjadi salah satu tolok ukur kontribusi investasi terhadap ekonomi domestik.
Prospek dan catatan
Meskipun capaian triwulan pertama menunjukkan pertumbuhan, Rosan mengingatkan bahwa kondisi geopolitik dan geoekonomi global tetap dinamis. Kondisi ini menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam upaya mempertahankan arus investasi dan mencapai target tahunan.
Ke depan, pengawasan terhadap sumber investasi dan kebijakan yang mendorong iklim usaha akan menjadi kunci agar capaian triwulan dapat berlanjut hingga akhir tahun.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Promo Whoosh HUT ke-81: Tiket Mulai Rp8.800, Diskon hingga Rp200.000
KCIC tawarkan tiket Whoosh mulai Rp8.800 (7-17 Agustus 2026) dan potongan hingga Rp200.000 lewat Traveloka;...
CRESTA: Hunian Tepi Danau dengan Cicilan Mulai Rp3 Juta-an
Damai Putra Group luncurkan CRESTA, hunian tepi danau di Kota Harapan Indah dengan cicilan mulai Rp3 juta-an...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000, Jadi Rp2,675 Juta/gram
Harga emas Antam naik Rp11.000 per gram pada 15 Agustus 2026, menjadi Rp2.675.000/gram; berikut daftar harga...
OJK Tegaskan Demutualisasi BEI Tak Kurangi Pengawasan
OJK menegaskan demutualisasi BEI tidak mengurangi kewenangan pengawasan dan RPOJK ditargetkan efektif kuarta...
OJK: Demutualisasi BEI Perkuat Daya Saing Pasar Modal
OJK menyatakan demutualisasi BEI memperkuat kelembagaan, efisiensi operasional, dan akses permodalan tanpa m...
Danantara Tegaskan DSI Bukan Eksportir Tunggal SDA Strategis
Danantara menegaskan DSI tak dibentuk sebagai eksportir tunggal; fungsi utama DSI adalah integrasi data eksp...