Rupiah Menguat 0,79% Jadi Rp17.755 Usai Nominasi Gubernur BI
Rupiah ditutup menguat signifikan sebesar 0,79 persen atau 142 poin ke posisi Rp17.755 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Senin, 10 Agustus 2026. Penguatan ini terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI), yang menimbulkan sentimen positif di pasar.
Pergerakan pasar: apa yang mendorong
Data Bloomberg mencatat lonjakan rupiah tersebut pada akhir sesi perdagangan. Analis pasar menilai nominasi gubernur BI memberikan kepastian kebijakan moneter dan menguatkan keyakinan investor domestik.
“Prabowo sudah menyampaikan usulannya ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam bentuk Surat Presiden (Surpres),”
kata Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang. Selain faktor domestik, meredanya kekhawatiran terkait kenaikan suku bunga di AS turut memperkuat arus modal ke aset berdenominasi rupiah.
Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) dan implikasi domestik
Meskipun rupiah menguat, data domestik menunjukkan tekanan pada konsumsi. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) tercatat turun menjadi 116,8 pada Juli 2026 dari 117,8 pada Juni 2026, menandai pelemahan selama tiga bulan berturut-turut.
| Bulan | IKK |
|---|---|
| Juni 2026 | 117,8 |
| Juli 2026 | 116,8 |
“Tren ini menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi. Mereka juga berhati-hati dalam menentukan keputusan belanja,”
lanjut Ibrahim. Meski angka IKK masih berada di atas 100 dan menunjukkan optimisme relatif, Ibrahim menekankan bahwa pelemahan keyakinan konsumen perlu diperhatikan karena konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi.
“Pelemahan keyakinan konsumen menjadi perhatian, karena konsumsi rumah tangga salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,”
Faktor eksternal: suku bunga AS dan konflik geopolitik
Dari luar negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga The Fed. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini sekitar 42 persen, turun dari sekitar 67 persen seminggu sebelumnya.
“Ekspektasi itu turun dari sekitar 67 persen seminggu yang lalu,”
Investor kini menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Rabu sebagai indikator berikutnya.
Selain itu, ketegangan antara AS dan Iran yang masih berlangsung turut menjadi faktor risiko. Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz untuk AS sebelum kompensasi dibayar, sehingga potensi eskalasi dapat menambah volatilitas pasar global.
Risiko dan perhatian ke depan
Ke depan, pasar akan memantau proses pengangkatan Gubernur BI di DPR, perkembangan data konsumsi domestik, serta rilis CPI AS. Pergerakan inflasi dan ekspektasi suku bunga global akan menentukan arah rupiah selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...