Rupiah Diproyeksi Menguat pada Semester II 2026
Nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan terhadap dolar AS dinilai berpeluang kembali menguat pada paruh kedua 2026. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan bersifat sementara dan dipicu sentimen jangka pendek serta faktor musiman.
Penilaian pemerintah: fondasi ekonomi tetap kuat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ekonomi domestik tidak menunjukkan pemburukan fundamental. Ia meminta agar pelemahan rupiah tidak disikapi berlebihan karena perekonomian Indonesia relatif kuat.
“Nanti kita perbaiki pelemahan rupiah. Sekarang fondasi ekonominya bagus, ini hanya masalah sentimen jangka pendek,”
Purbaya menambahkan pemerintah fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tidak terganggu. Ia juga menyebut langkah pemerintah akan mencakup intervensi di pasar obligasi.
“Saya fokus menjaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Kami juga akan masuk ke pasar obligasi mulai hari ini.”
Bank Indonesia: tekanan bersifat musiman
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan penguatan dolar terhadap rupiah lebih banyak disebabkan oleh faktor permintaan musiman. Menurutnya, kebutuhan valuta asing naik pada periode tertentu dan menekan kurs rupiah.
“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran dividen, dan pembayaran utang,”
BI memproyeksikan tekanan ini akan mereda pada semester kedua 2026. Berdasarkan pola beberapa tahun terakhir, rupiah cenderung menguat pada periode Juli hingga September.
“Dari pengalaman, Juli–Agustus–September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke kisaran Rp16.200–Rp16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro dalam APBN,”
Langkah stabilisasi dan pelajaran krisis
Perry menegaskan BI akan menjaga stabilitas tanpa mengorbankan likuiditas domestik. Bank sentral memilih mekanisme yang menghindari pengetatan likuiditas yang sebelumnya memperparah krisis pada akhir 1990-an.
“Kami tidak mau itu terjadi. Karena itu, BI membeli SBN di pasar sekunder agar tidak terjadi kekeringan likuiditas, sekaligus untuk menarik arus modal masuk (inflow),”
Selain faktor musiman, BI dan pemerintah akan memantau perkembangan inflow, volatilitas pasar global, serta kebutuhan valuta untuk pembayaran utang dan dividen.
Prospek ke depan
Dengan fundamental ekonomi yang relatif kuat dan tekanan eksternal yang diprediksi mereda, pemerintah dan BI optimistis rupiah punya peluang menguat pada semester II 2026. Namun, keduanya siap mengambil langkah lanjutan jika kondisi pasar menuntut intervensi lebih lanjut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pertamina Perkuat Layanan Kesehatan dan Pemberdayaan di Jatim
Iriawan meninjau RS IHC Perkebunan Jember pada 2 Juli 2026 dan mendorong inovasi, profesionalisme, serta emp...
Harga Emas Pegadaian: Galeri24 & UBS Stabil per 3 Juli 2026
Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian stabil per 3 Juli 2026, masing-masing Rp2.627.000 dan Rp2.639.000 p...
Rupiah Menguat Saat Pembukaan, Terpengaruh Data Ketenagakerjaan AS
Rupiah menguat ke Rp17.958 pada pembukaan perdagangan setelah data NFP AS lebih lemah, namun sentimen domest...
IHSG Menguat 1,07% ke 5.806,17 Saat Sesi I
IHSG dibuka menguat ke 5.806,17 pada 3 Juli 2026, terdorong data ketenagakerjaan AS dan mandat baru OJK.
Harga Emas Antam Naik Rp11.000, 1g Rp2.651.000
Emas Antam menguat 3 Juli 2026, naik Rp11.000/gram menjadi Rp2.651.000; lihat daftar harga per ukuran dan ca...
IHSG Diperkirakan Sideways Akhir Pekan, Asing Jual Rp23 Miliar
IHSG diperkirakan sideways akhir pekan di kisaran 5.650-5.87, meski asing mencatat net sell Rp23 miliar dan...