Rupiah Melemah, DPR Wanti-Wanti Stabilitas Harga Pangan
Komisi IV DPR
DPR: Risiko bagi harga pangan
Anggota Komisi IV DPR, Rina Sa’adah, menilai pelemahan rupiah perlu dianalisis relatif terhadap mata uang negara tetangga. Jika pelemahan terjadi merata di kawasan, tekanan lebih banyak bersifat eksternal.
Yang perlu kita lihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dolar AS, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Jika pelemahan mata uang terjadi hampir merata di kawasan, maka tekanan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal
Rina menekankan pemerintah jangan lengah. Depresiasi rupiah dapat menaikkan biaya impor komponen penting bagi sektor pertanian dan perikanan.
Komponen impor yang terancam
Beberapa komponen yang masih bergantung pada impor akan terdampak langsung saat rupiah melemah. Kenaikan biaya impor ini berisiko membengkakkan biaya produksi petani dan pelaku usaha kecil.
- Kedelai
- Gandum
- Garam industri
- Bahan baku pakan ternak
Dampak ke pelaku usaha dan ketahanan pangan
Menurut DPR, efek domino dari mahalnya bahan baku impor bisa memukul daya beli masyarakat. Biaya produksi yang meningkat akan menekan margin petani, peternak, dan nelayan.
Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional. Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha perikanan juga akan semakin besar
Rekomendasi kebijakan
Komisi IV mendorong percepatan swasembada pangan untuk mengurangi ketergantungan impor. Rina mengusulkan langkah konkret yang menyasar rantai produksi.
- Penguatan industri pakan lokal
- Pengembangan benih unggul nasional
- Penyaluran subsidi yang tepat sasaran
Sinergi pusat-daerah juga dianggap mutlak untuk menjaga pasokan dan membentengi daya beli masyarakat.
Proyeksi pasar dan intervensi Bank Indonesia
Pada pembukaan perdagangan 4 Juni 2026, rupiah tercatat menembus level Rp18.000 per dolar AS dan dipantau melemah sekitar 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp18.023 per dolar AS. Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat penguatan dolar AS terkait meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu pemicu.
Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS
Lukman menambahkan indeks dolar AS bergerak sekitar 99,44-99,52 dan sentimen terhadap rupiah saat ini masih buruk. Ia memproyeksikan rupiah bergerak pada rentang Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS. Menurutnya, Bank Indonesia kemungkinan akan melakukan intervensi agresif untuk menstabilkan pasar.
Dengan situasi ini, fokus kebijakan jangka menengah perlu diarahkan pada pengurangan ketergantungan impor dan penguatan rantai pasok domestik. Langkah konkret akan menentukan seberapa cepat tekanan kurs dapat diimbangi tanpa mengguncang stabilitas harga pangan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pertagas Gelar Office Adventure Day Rayakan Hari Anak Nasional
Pertagas menggelar Office Adventure Day pada 25 Juli 2026, menghadirkan ruang bermain edukatif bagi 35 anak...
Setahun Tanpa Impor, Indonesia Surplus 4,2 Juta Ton Beras
Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan Indonesia setahun tak impor beras sehingga tercapai surplus 4,2 juta...
Bulog Catat Pengadaan Beras 3,5 Juta Ton hingga 24 Juli 2026
Bulog mencatat pengadaan setara beras mencapai 3,5 juta ton hingga 24 Juli 2026, mendekati target 4 juta ton...
Anggota KDMP Nuar Maju Tembus 130, Koperasi Tawarkan Harga Murah
KDMP Nuar Maju kini memiliki 130 anggota aktif; koperasi menawarkan harga lebih murah dan hak atas SHU sebag...
Komisi VI DPR Tekankan Peran BUMN Perkuat Ekosistem Maritim
Komisi VI DPR dorong peran BUMN untuk memperkuat ekosistem maritim lewat konsolidasi, penguatan PT PAL, dan...
Kemendikdasmen Revitalisasi SDN Tanggirejo Grobogan 2026
Kemendikdasmen memastikan SDN Tanggirejo Grobogan akan direvitalisasi pada 2026 setelah bangunan sekolah rob...