Rupiah Melemah ke Rp17.781, Dolar AS Rebound Usai Data PCE
Rupiah melemah ke Rp17.781 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026, setelah dolar AS menguat kembali menyusul rilis data inflasi inti AS. Pelemahan tercatat sekitar 0,32% atau 56 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan pasar pada pembukaan
Pada hari sebelumnya, rupiah hanya melemah tipis 0,01% ke posisi Rp17.725 per dolar. Namun sentimen global membuat posisi mata uang domestik kembali tertekan di awal sesi perdagangan.
Indeks dolar AS tercatat menguat di kisaran 99,12-99,13, menunjukkan permintaan terhadap aset safe haven meningkat setelah data inflasi AS melebihi ekspektasi pasar.
Faktor global: data PCE mengangkat ekspektasi suku bunga
Indikator inflasi acuan Federal Reserve, Personal Consumption Expenditures (PCE), untuk Juli menunjukkan kenaikan tahunan 3,7%—lebih tinggi dari prakiraan pasar sebesar 3,6%.
Hal ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan harga masih bertahan, sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS lebih lanjut.
"Rupiah diprakirakan akan melemah terhadap dolar AS yang berbalik menguat. Dolar AS 'rebound' rilis data inflasi dari pengeluaran konsumsi pribadi di AS," ujar Analis Pasar Uang Lukman Leong.
Faktor domestik: kekhawatiran politik dan aktivitas investor
Selain faktor global, sentimen domestik juga memberi tekanan pada rupiah. Kekhawatiran investor meningkat terkait rencana demonstrasi yang berlangsung hari ini.
"Sedangkan dari sisi domestik, investor juga was-was akan demonstrasi yang akan berlangsung hari ini," kata Lukman, menambahkan harapan agar aksi berjalan aman dan damai.
Proyeksi dan dampak
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.650–Rp17.800 per dolar AS sepanjang hari ini. Rentang tersebut mencerminkan volatilitas yang lebih tinggi bila sentimen global maupun domestik bergerak negatif.
Jika data inflasi AS terus menunjukkan angka di atas ekspektasi, kemungkinan penguatan dolar AS berlanjut, yang berisiko menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Sebaliknya, pernyataan kebijakan moneter yang meredakan kekhawatiran inflasi dapat menenangkan pasar.
Investor dan pelaku pasar diperkirakan akan memantau data ekonomi AS selanjutnya serta perkembangan situasi unjuk rasa domestik sebagai penentu arah rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
UMKM Mamuju: Saran Pemilik Kenny Crumbs Atasi Sulit Cari Kerja
Pemilik Kenny Crumbs mendorong pemuda Mamuju merintis usaha rumahan sebagai solusi keterbatasan lapangan ker...
Cincin Cangkang Penyu Diminati di Dobo, Ada Isu Konservasi
Cincin berbahan cangkang penyu diminati di Dobo karena estetika dan makna simbolis, namun pemanfaatannya men...
Pemko Lhokseumawe Perkuat Pemulihan UMKM Pascabencana
Pemko Lhokseumawe dukung program pemulihan UMKM pascabencana lewat sosialisasi Kemenkop UKM pada 26 Agustus...
Bupati Bener Meriah Ikuti Kick-Off Program Pemulihan UMKM 2026
Bupati Bener Meriah ikut Kick-Off Program Pemulihan UMKM 2026 secara virtual, bagian dari PRRP Sumatera untu...
Larisov Dapur Mamakei Sajikan Nasi Kebuli Cita Rasa Timur Tengah
Larisov Dapur Mamakei sajikan nasi kebuli ayam bergaya Timur Tengah yang disesuaikan untuk lidah Indonesia,...
UNY Hilirisasi Ubi Talas Jadi Produk Pangan Modern
UNY mengubah ubi talas jadi produk pangan modern dan melatih KWT Ngasem Mandiri di Kulon Progo untuk mengelo...