Ekonomi

Cincin Cangkang Penyu Diminati di Dobo, Ada Isu Konservasi

Bagikan:
Cincin berbahan cangkang penyu dengan pola alami di Dobo

Warga Dobo di Kepulauan Aru belakangan ini menunjukkan minat terhadap cincin berbahan cangkang penyu, yang dipilih karena corak dan bentuk alaminya serta dipercaya memiliki fungsi estetika dan simbolis. Minat ini memicu diskusi soal perlindungan satwa karena penyu merupakan satwa yang dilindungi dan pemanfaatan cangkangnya harus memperhatikan ketentuan hukum serta kelestarian.

Daya tarik dan penggunaan

Cincin dari cangkang penyu menarik perhatian karena pola dan kilau alami yang sulit ditiru bahan lain. Di Dobo, aksesori ini sering dipakai sebagai perhiasan sehari-hari yang menonjolkan identitas lokal dan gaya sederhana khas masyarakat kepulauan.

Selain aspek estetika, beberapa pemakai juga memaknai cincin tersebut lebih dari sekadar aksesori. Penggunaan secara turun-temurun membuat cincin ini memiliki nilai budaya bagi sebagian warga.

Pandangan pemakai

Salah satu warga yang lahir dan besar di Dobo, Dina Nelci Galandjindjinay, menyatakan bahwa cincin cangkang penyu bukan hanya soal penampilan. Ia menjelaskan alasan pribadi dan kepercayaan seputar pemakaian cincin tersebut.

"Selain untuk estetika, cincin tersebut dipercaya sebagai pelindung dan perisai diri," kata Dina Nelci Galandjindjinay.

Isu konservasi dan aspek hukum

Meskipun diminati, pemanfaatan cangkang penyu menimbulkan kekhawatiran konservasi. Karena penyu dilindungi, pengambilan cangkangnya tidak boleh dilakukan sembarangan dan perlu mematuhi aturan yang mengatur pemanfaatan satwa liar.

Para pemerhati lingkungan menekankan pentingnya menyeimbangkan warisan budaya dan upaya pelestarian. Pengawasan dan edukasi kepada masyarakat dinilai perlu agar praktik kerajinan tidak mengancam populasi penyu setempat.

Peluang usaha dan alternatif berkelanjutan

Di sisi lain, minat terhadap produk lokal membuka peluang bagi pengembangan kerajinan yang ramah lingkungan. Kreativitas dalam mencari bahan alternatif dapat menjadi solusi untuk menjaga tradisi sambil mendukung konservasi.

Pengembangan bahan pengganti dan teknik pewarnaan atau motif buatan yang meniru pola cangkang dapat menjadi peluang usaha baru sekaligus mengurangi tekanan terhadap penyu.

Menjaga kekayaan laut dan tradisi kultural di Kepulauan Aru membutuhkan kerja sama antarpihak, dari pelaku kerajinan hingga lembaga konservasi, agar pemanfaatan sumber daya alam berlangsung berkelanjutan.

Rafi Akbar
Penulis
Rafi Akbar

Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.

Berita Terkait