Rupiah Terus Melemah, Sentuh Rp17.805 per Dolar AS
Rupiah kembali melemah
Pergerakan terbaru dan data pasar
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 11 poin atau 0,06 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pada Kamis, penutupan rupiah melemah 0,18 persen (32 poin) ke posisi Rp17.794 per dolar AS.
Indeks dolar AS bergerak di kisaran 100,82-101 pada pagi ini dan tercatat mencapai level tertinggi lebih dari satu tahun.
Faktor pendorong penguatan dolar
Penguatan dolar didorong oleh sinyal kenaikan suku bunga The Fed yang disampaikan usai pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Kamis. Analis menilai prospek sikap moneter yang lebih ketat membuat aliran modal kembali ke aset berdenominasi dolar.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS hari ini. Dolar AS menguat di tengah meningkatnya prospek kenaikan suku bunga the Fed," kata Lukman Leong, Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures.
Selain itu, kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah akibat konflik antara AS dan Iran menambah tekanan pada pasar valuta.
"Kekhawatiran akan pasokan minyak mentah dunia akibat perang AS-Iran masih belum pulih. Kekhawatiran ini mendorong penguatan dolar AS," tambah Lukman.
Pengaruh MSCI Accessibility Review
Selain faktor eksternal, pengumuman MSCI Accessibility Review juga disebut berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar. Laporan MSCI menegaskan Indonesia masih masuk kategori Emerging Market, namun menyoroti isu transparansi dan praktik perdagangan terkoordinasi yang memengaruhi pembentukan harga saham.
"Saya melihat pengumuman ini cukup dapat diterima investor," ujar Lukman, yang menambahkan bahwa investor menantikan hasil review klasifikasi pasar modal yang akan diumumkan pada 24 Juni mendatang.
Outlook dan rentang perdagangan
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS hari ini. Investor disarankan mencermati rilis data global, pernyataan The Fed, hasil review MSCI, serta perkembangan geopolitik yang berkaitan dengan pasokan energi.
Secara keseluruhan, kombinasi prospek suku bunga AS yang lebih tinggi dan risiko pasokan minyak menjadi penekan utama rupiah dalam jangka pendek. Pemantauan kondisi pasar internasional akan menentukan arah lanjutan nilai tukar.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.