Ekonomi

Kemenperin Percepat Industri Hijau untuk Pacu Ekonomi Sirkular

Bagikan:
Kemenperin dorong industri hijau dan ekonomi sirkular di subsektor minuman

Kementerian Perindustrian mempercepat transformasi menuju industri hijau untuk memperkuat ekonomi sirkular dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) sektor industri 2050. Pernyataan itu disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026, sebagai bagian dari upaya penguatan daya saing industri nasional.

Fokus pada subsektor industri minuman

Kemenperin menempatkan industri minuman sebagai prioritas karena potensi besar mendukung penerapan ekonomi sirkular. Pelaku usaha diarahkan meningkatkan efisiensi sumber daya, memakai energi terbarukan, dan mengoptimalkan penggunaan kemasan plastik daur ulang.

"Transformasi menuju industri hijau merupakan langkah strategis meningkatkan daya saing industri nasional menghadapi tuntutan pasar global berkelanjutan semakin meningkat. Karena itu, penerapan ekonomi sirkular perlu diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Agus.

Agus menekankan bahwa transformasi tidak semata mengejar pengurangan emisi, tetapi juga menciptakan nilai tambah lewat efisiensi produksi dan inovasi teknologi.

Landasan kebijakan dan peta jalan dekarbonisasi

Percepatan ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. Kementerian telah menyusun peta jalan dekarbonisasi bagi subsektor manufaktur prioritas, termasuk industri makanan dan minuman, untuk merealisasikan target NZE pada 2050.

"Melalui penerapan ekonomi sirkular, industri diharapkan mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus memperkuat daya saing," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika.

Data konsumsi plastik dan peluang daur ulang PET

Kementerian menyorot pentingnya pengelolaan kemasan pascakonsumsi sebagai bagian implementasi industri berkelanjutan. Berdasarkan kajian, beberapa jenis plastik dominan dalam konsumsi nasional.

Jenis Plastik Persentase Konsumsi Nasional
PolyPropylene (PP) 36%
Low-Density Polyethylene (LDPE) 17%
High-Density Polyethylene (HDPE) 14%
Polyethylene Terephthalate (PET) 9%

Data juga menunjukkan potensi pengelolaan limbah botol PET yang menjanjikan untuk ekonomi sirkular.

Item Ton per Tahun
Produksi limbah botol PET ~435.000
Jumlah yang dikumpulkan kembali ~307.000 (sekitar 71%)

"Jenis kemasan botol PET menunjukkan bahwa limbah sebenarnya dapat menjadi sumber daya apabila dikelola secara tepat. Ini menjadi modal penting bagi Indonesia dalam membangun sistem ekonomi sirkular yang lebih kuat mendukung penurunan emisi industri," ujar Direktur Industri Minuman, Merrijantij Punguan Pintaria.

Program pembinaan dan langkah konkret

Sebagai langkah nyata, Kemenperin memulai program pembinaan implementasi industri hijau dan ekonomi sirkular untuk industri minuman. Program dimulai lewat workshop untuk memetakan praktik industri dan hambatan implementasi.

Lewat rangkaian kegiatan ini, kementerian menargetkan perbaikan pengelolaan kemasan pascakonsumsi dan peningkatan daya saing produk minuman Indonesia di pasar global yang semakin menuntut keberlanjutan.

Dengan arah kebijakan dan program yang berjalan, Kemenperin berharap transformasi industri hijau dapat mempercepat penurunan emisi sambil membuka peluang ekonomi baru melalui praktik ekonomi sirkular.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait