Rupiah Sentuh Rp17.601, Tekanan Konflik Timur Tengah Meningkat
Rupiah melemah signifikan pada Jumat, 15 Mei 2026, hingga berada di level Rp17.601 per dolar AS pada pukul 12.00 WIB. Pelemahan dipicu oleh tekanan eksternal, terutama ketegangan di Timur Tengah dan penguatan indeks dolar AS, sementara intervensi Bank Indonesia terbatas karena libur panjang.
Pergerakan nilai tukar
Pelemahan hari ini tercatat sekitar 0,41% terhadap dolar AS. Indeks dolar AS bergerak menguat di kisaran 99, turut menekan mata uang emerging market termasuk rupiah. Kondisi ini diperburuk oleh aktivitas pasar yang minim selama cuti bersama.
Tekanan eksternal: geopolitik dan sentimen global
Penguatan dolar dan gejolak geopolitik menjadi pendorong utama. Ketegangan di Selat Hormuz serta kabar keterlibatan beberapa negara Arab memperkeruh suasana pasar. Kunjungan Presiden AS ke Tiongkok dan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping juga gagal menghadirkan sentimen positif.
"Saat libur dua hari ini Bank Indonesia (BI) hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional. Intervensi pasar internasional itu tidak terlalu signifikan membantu penguatan rupiah karena tekanan eksternal yang lebih besar."
- Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang
Faktor di Amerika Serikat
Di AS, kenaikan harga bensin mendorong inflasi lebih tinggi. Menurut analis, dinamika ini ikut memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed.
"Dengan meningkatnya inflasi, ada kemungkinan bank sentral AS akan menurunkan suku bunga tahun ini."
Jika suku bunga AS tetap tinggi, arus modal ke dolar bisa berlanjut dan memberi tekanan lebih lanjut pada rupiah.
Dampak fiskal domestik
Ibrahim juga menyoroti tekanan pada keuangan negara akibat harga minyak dunia yang naik. Impor minyak diproyeksi mencapai 1,5 juta barel, di mana sekitar 85% digunakan untuk bahan bakar bersubsidi.
"Karena impor minyak sebanyak 1,5 juta barel, 85 persennya untuk BBM bersubsidi."
Prospek kebijakan Bank Indonesia
Menghadapi tekanan kurs, analis memperkirakan rupiah berisiko menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada Mei. BI diperkirakan akan menyesuaikan kebijakan suku bunga pada Juni untuk meredam tekanan tersebut.
"Bank Indonesia kemungkinan akan menaikkan suku bunga di bulan Juni 2026. Kenaikannya bisa sebesar 25 hingga 50 basis poin (bps), untuk menstabilkan mata uang rupiah."
Penutup: outlook dan kekuatan domestik
Meski ada risiko eksternal, ada pula faktor pendukung. Menurut analis, kondisi fundamental Indonesia relatif kuat karena mayoritas surat utang domestik dipegang investor lokal.
"Fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus karena 90 persen obligasi dibeli investor domestik."
Perkembangan geopolitik dan keputusan kebijakan moneter global akan menentukan arah rupiah dalam beberapa minggu ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pertamina Perkuat Layanan Kesehatan dan Pemberdayaan di Jatim
Iriawan meninjau RS IHC Perkebunan Jember pada 2 Juli 2026 dan mendorong inovasi, profesionalisme, serta emp...
Harga Emas Pegadaian: Galeri24 & UBS Stabil per 3 Juli 2026
Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian stabil per 3 Juli 2026, masing-masing Rp2.627.000 dan Rp2.639.000 p...
Rupiah Menguat Saat Pembukaan, Terpengaruh Data Ketenagakerjaan AS
Rupiah menguat ke Rp17.958 pada pembukaan perdagangan setelah data NFP AS lebih lemah, namun sentimen domest...
IHSG Menguat 1,07% ke 5.806,17 Saat Sesi I
IHSG dibuka menguat ke 5.806,17 pada 3 Juli 2026, terdorong data ketenagakerjaan AS dan mandat baru OJK.
Harga Emas Antam Naik Rp11.000, 1g Rp2.651.000
Emas Antam menguat 3 Juli 2026, naik Rp11.000/gram menjadi Rp2.651.000; lihat daftar harga per ukuran dan ca...
IHSG Diperkirakan Sideways Akhir Pekan, Asing Jual Rp23 Miliar
IHSG diperkirakan sideways akhir pekan di kisaran 5.650-5.87, meski asing mencatat net sell Rp23 miliar dan...