Ekonomi

Rupiah Melemah 0,33% ke Rp17.669, Dipicu Sentimen Eksternal

Bagikan:
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menurun pada penutupan pasar

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 14 September 2026. Rupiah turun 0,33 persen atau 58 poin ke posisi Rp17.669 per dolar AS, menurut data penutupan pasar.

Pergerakan pasar dan IHSG

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah hari ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal ketimbang pergantian pejabat di kabinet. Meski demikian, pergerakan pasar saham domestik tetap berpotensi memengaruhi kurs dalam jangka pendek.

“Namun, kalau Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) tepengaruh, bisa berdampak ke rupiah, biasanya besok,”

IHSG pada hari yang sama ditutup melemah 0,1 persen ke level 6.534,69, setelah sempat menguat menanggapi kabar reshuffle kabinet yang melibatkan posisi Menteri Keuangan.

Perombakan kabinet tidak dominan

Pada hari yang sama, Presiden melantik Suahasil Nazara — sebelumnya wakil menteri keuangan — sebagai Menteri Keuangan yang baru, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut Ibrahim, pergantian ini tidak menjadi penyebab utama tekanan pada rupiah hari ini.

Dampak geopolitik Timur Tengah

Salah satu pemicu utama pelemahan adalah perkembangan geopolitik. Ketegangan di kawasan Timur Tengah mempersempit jalur distribusi minyak dan menimbulkan sentimen negatif pada pasar keuangan global.

“Kelompok Houthi semakin memperkuat posisinya terhadap Selat Bab el-Mandeb. Dengan demikian, jalur pasokan minyak penting di Timur Tengah ini tertutup, utamanya untuk pengiriman minyak Arab Saudi,”

Ibrahim menambahkan bahwa setelah Selat Hormuz sebelumnya menjadi wilayah sengketa, negara-negara pengirim minyak seperti Arab Saudi mengandalkan rute alternatif melalui Bab el-Mandeb. Rencana pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk yang dikabarkan ditunda juga meredupkan harapan meredanya konflik.

“Selat Hormuz kemungkinan masih akan menjadi rebutan, sementara kapal-kapal yang melintas di selat itu semakin sedikit,”

Ekspektasi suku bunga AS

Dari sisi ekonomi makro, pasar semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September, dengan probabilitas mencapai sekitar 88 persen. Ekspektasi tersebut menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Karena Presiden Trump tetap menyerukan penurunan suku bunga. Ia juga kembali mengkritik kebijakan bank sentral AS itu,”

Prospek dan risiko ke depan

Untuk hari-hari mendatang, rupiah akan tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan keputusan moneter AS. Pergerakan IHSG juga dapat memperkuat atau meredam tekanan jika reaksi investor domestik berubah.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait