Lintasarta Tawarkan Bandwidth on Demand untuk Perbankan Adaptif
Lintasarta mendorong bank memperkuat infrastruktur digital yang adaptif dengan meluncurkan solusi Bandwidth on Demand (BWoD). Peluncuran dibahas dalam forum eksekutif dengan pelaku perbankan, Bank Indonesia, dan OJK di Jakarta, untuk menjawab kebutuhan kapasitas yang berubah cepat saat month-end, pemrosesan gaji, atau pemulihan bencana.
Kenapa infrastruktur harus adaptif
Transformasi digital membuat kebutuhan kapasitas teknologi perbankan berubah mendadak. Infrastruktur kini tidak sekadar berkapasitas besar, tetapi harus fleksibel, tangguh, dan cepat menyesuaikan. Tanpa kemampuan itu, bank berisiko terganggu saat peak events atau memenuhi tuntutan regulasi.
Peluncuran solusi BWoD
Dalam acara Lintasarta Executive Dialogue, perusahaan memaparkan BWoD sebagai jawaban untuk kebutuhan konektivitas yang lebih adaptif. Solusi ini memungkinkan bank menambah atau mengurangi bandwidth sesuai kebutuhan operasional secara mandiri melalui antarmuka digital.
"Infrastruktur digital tidak cukup hanya berkapasitas besar, tetapi harus mampu beradaptasi secara cepat, fleksibel, dan terukur," ujar Armand Hermawan, President Director & CEO Lintasarta.
Fitur dan mekanisme kerja
BWoD terintegrasi dengan Super Apps Ultima sehingga perubahan kapasitas tidak memerlukan pemesanan manual atau instalasi baru setelah setup awal. Pada tier tertentu, layanan mendukung hingga 1 Gbps (1.000 Mbps) di wilayah dengan kesiapan teknis.
Solusi ini bagian dari Lintasarta Intelligent Core, yang menggabungkan pelanggan, aplikasi, engine cerdas, dan core network. Pendekatan ini memungkinkan real-time execution dan autonomous decisioning untuk pengelolaan konektivitas yang lebih cepat dan otomatis.
Cakupan layanan dan rencana ekspansi
Pada tahap awal, layanan BWoD akan tersedia di 84 kota di Pulau Jawa sepanjang 2026. Lintasarta berencana mengembangkan jangkauan layanan secara bertahap hingga mencapai cakupan nasional.
"Kami ingin memberikan agility kepada bank untuk mengelola kapasitas connectivity sesuai kebutuhan operasionalnya," kata Armand.
Pandangan regulator
Otoritas keuangan juga menyambut pentingnya penguatan infrastruktur. Sophia Isabella Wattimena, Anggota Dewan Komisioner OJK 2022–2026, menekankan bahwa keandalan, keamanan, dan manajemen risiko infrastruktur menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi digital perbankan.
"Transformasi digital perbankan perlu berjalan seiring penguatan kapabilitas infrastruktur teknologi. Keandalan, keamanan, manajemen risiko, dan kemampuan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan industri menjadi semakin penting," ujar Sophia.
Dengan menghadirkan BWoD, Lintasarta berharap memperkuat peran sebagai mitra infrastruktur digital bank. Solusi ini memberi bank fleksibilitas operasional untuk menghadapi lonjakan permintaan, pemulihan bencana, dan peluncuran layanan baru tanpa menunggu intervensi manual.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...