Rupiah Dibuka Stabil di Rp17.611 per Dolar AS
Rupiah dibuka stabil pada posisi Rp17.611 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin, 14 September 2026. Pasar mencatat pergerakan masih terbatas sementara pelaku menunggu keputusan kebijakan The Fed dan Bank Indonesia.
Pembukaan pasar
Pada pukul 09.15 WIB, data pasar menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp17.611 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS relatif datar di kisaran level 99, yang membatasi fluktuasi mata uang emerging market termasuk rupiah.
Prediksi analis
Analis Pasar Uang dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyampaikan bahwa rupiah masih berisiko melemah. Ia memperkirakan tekanan turun menuju kisaran Rp17.700–Rp17.755 per dolar AS jika indeks dolar kembali menguat.
"Kami memperkirakan, nilai tukar rupiah rawan melemah ke area Rp17.700-Rp17.755.per dolar AS," kata Herditya Wicaksana.
Herditya juga menilai pergerakan rupiah sejauh ini sesuai target yang diperkirakan sebelumnya pada rentang Rp17.476–Rp17.519 per dolar AS.
Faktor yang memengaruhi
Pergerakan rupiah dipengaruhi beberapa faktor kunci. Pertama, penguatan harga minyak mentah yang dapat meningkatkan risiko defisit neraca perdagangan bagi negara importir energi. Kedua, ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed yang membuat dolar AS menguat dan menekan mata uang pasar berkembang.
- Kenaikan harga minyak mentah: mendorong volatilitas mata uang
- Indeks dolar yang menguat: menekan mata uang emerging market
- Sentimen kebijakan moneter: keputusan suku bunga global dan domestik
Agenda kebijakan dan prospek
Peliknya prospek rupiah dipengaruhi oleh jadwal rapat bank sentral utama. Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan The Fed pada 15–16 September 2026 yang akan memaparkan asesmen perekonomian AS dan arah suku bunga.
Di dalam negeri, pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Pada Agustus 2026, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen; keputusan terbaru berpeluang memengaruhi sentimen terhadap rupiah.
Secara ringkas, meskipun pembukaan hari ini relatif stabil, rupiah tetap rentan terhadap pergeseran sentimen global dan kebijakan moneter, sehingga volatilitas bisa meningkat menjelang pengumuman kebijakan bank sentral.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Analis: Harga Emas Pekan Depan Diperkirakan Turun, Tertekan Konflik
Analis memprediksi harga emas pekan depan cenderung turun karena konflik geopolitik, harga minyak tinggi, da...
IHSG Turun Sepekan, BEI Raih Penghargaan Internasional
IHSG turun 1,43% pada 7–11 Sep 2026; kapitalisasi dan transaksi melemah, namun BEI meraih sejumlah pengharga...
KPP Dorong Ekspansi Usaha: Dari Laundry hingga Developer Kecil
Pelaku usaha memanfaatkan Kredit Program Perumahan (KPP) untuk ekspansi; program dorong produksi dan serap t...
Reformasi KUR: Utamakan Kualitas Pembiayaan untuk UMKM
Anggota Komisi VII DPR, Hendry Munief, minta reformasi KUR fokus pada kualitas pembiayaan UMKM, bukan sekada...
Bazar dan Event Jadi Pintu Perluasan Pasar UMKM Kuliner
UMKM kuliner memanfaatkan bazar dan event untuk memperkenalkan produk, memperluas pasar, dan mendapat respon...
Survei IDM: Pelayanan Bea Cukai Puas, Tarif dan Pembebasan Jadi PR
Survei IDM (28 Ags–3 Sep 2026): mayoritas puas dengan pelayanan Bea Cukai, namun kebijakan tarif dan aturan...