Analis: Harga Emas Pekan Depan Diperkirakan Turun, Tertekan Konflik
Analis memprakirakan harga emas dunia sepekan ke depan cenderung fluktuatif namun bergerak turun karena dampak konflik geopolitik di Timur Tengah dan faktor ekonomi global.
Prediksi harga emas global dan domestik
Akhir pekan lalu, harga emas dunia ditutup pada posisi USD4.348 per troy ons. Untuk pekan depan, analis memperkirakan pergerakan berada di rentang USD4.102–USD4.650 per troy ons.
"Sepekan ke depan, harga emas dunia diprakirakan akan bergerak di kisaran USD4.102- USD4.650 per troy ons,"
Di pasar dalam negeri, harga logam mulia diperkirakan bergerak antara Rp2,45 juta hingga Rp2,75 juta per gram. Penurunan diperkirakan terbatas karena pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dampak konflik dan pasar energi
Konflik di Timur Tengah dan Eropa meningkatkan risiko pada pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Kekhawatiran ini mendorong ekspektasi harga minyak tetap tinggi pekan depan.
Analis memperkirakan harga WTI berada di kisaran USD91,60–USD103,50 per barel, sedangkan Brent diperkirakan mencapai sekitar USD105 per barel. Kenaikan harga minyak turut menekan harga bahan bakar dan biaya logistik global.
Nilai tukar, inflasi, dan ekspektasi suku bunga
Indeks dolar AS diprakirakan berada pada level 90,30–100,20. Tekanan pada dolar ini berpotensi membuat rupiah melemah pekan depan.
"Nilai tukar rupiah pekan depan kemungkinan akan mencapai Rp17.850 an per dolar AS,"
Kenaikan harga minyak memicu inflasi di AS. Inflasi tahunan melonjak menjadi 4,6 persen, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed naik dari 70 persen menjadi 85 persen. Kondisi ini menekan permintaan emas sebagai aset safe haven.
Peranan bank sentral dan permintaan fisik
Tingkat permintaan dan pasokan emas global, khususnya pembelian oleh bank sentral, tetap menentukan arah harga. Pada kondisi perang, bank sentral cenderung menambah cadangan emasnya.
"Di bulan Agustus, bank sentral Tiongkok telah menambah cadangan emasnya sekira 650 troy ons, setara 20,2 ton emas. Sementara itu, bank-bank sentral di Eropa mulai memindahkan cadangan emasnya dari Amerika Serikat ke Inggris,"
Implikasi dan prospek
Meskipun tekanan menurun pada harga emas terlihat, analis menilai penurunan akan terbatas. Faktor geopolitik, harga minyak, dan kebijakan moneter global akan terus menjadi penentu sentimen pasar. Investor disarankan memantau perkembangan konflik dan data inflasi sebagai indikator utama pergerakan harga.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
LPDB Perkuat Diversifikasi Bisnis Puskopkar PTPN VIII
Puskopkar PTPN VIII perluas usaha lewat LPDB: dari distribusi teh hingga agrowisata untuk kurangi ketergantu...
ONDA Bidik Pasar Proyek untuk Perkuat Bisnis Perpipaan
ONDA mulai bidik pasar proyek dan institusional lewat partisipasi di Water Indonesia 2026 untuk memperkuat b...
Percepat Reaktivasi Sumur Idle untuk Perkuat Ketahanan Energi
Reaktivasi sumur minyak idle didorong dipercepat untuk meningkatkan produksi domestik dan memperkuat ketahan...
Yellow Stone Management Perkuat Jaringan Bisnis di Indonesia
Yellow Stone Management memperluas operasi ke Indonesia untuk memperkuat konektivitas bisnis dan membuka pel...
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru
J&T Express mengolah 146 kg seragam kurir menjadi produk baru lewat J&T SIP, mengurangi limbah dan menghinda...
Harga Emas Pegadaian Naik Akhir Pekan: Galeri24 & UBS 12 Sep 2026
Harga emas Galeri24 naik Rp5.000/gram dan UBS naik Rp1.000/gram di Pegadaian pada Sabtu, 12 September 2026,...