Ekonomi

Indonesia Dorong BRICS Pakai Mata Uang Lokal untuk Transaksi Lintas Negara

Bagikan:
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Mumbai membahas LCT dan konektivitas pembayaran

Bank Indonesia (BI)resiliensi ekonomi menghadapi tensi geopolitik dan fragmentasi global.

Gagasan LCT dan prioritas nasional

Destry menegaskan penggunaan mata uang lokal harus berjalan bertahap dan menghormati prioritas pembangunan tiap negara. Pendekatan itu diharapkan menjaga stabilitas makro sekaligus memperkuat sumber pertumbuhan nasional.

"Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara,"

- Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia (Mumbai, 12 September 2026)

Menurutnya, langkah ini bukan otomatis menggantikan mata uang asing utama, melainkan opsi untuk mengurangi ketergantungan dan memperlancar perdagangan antaranggota.

Hasil dan fokus pembahasan BRICS

Dalam pertemuan, anggota BRICS menyepakati komitmen memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan. Mereka menyoroti transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), serta konektivitas pembayaran antarnegara sebagai prioritas strategis.

Para pihak juga menyoroti pentingnya reformasi tata kelola lembaga keuangan internasional agar negara berkembang mendapatkan suara lebih kuat. Itu termasuk dorongan reformasi IMF untuk meningkatkan representasi.

Pertemuan bilateral: Indonesia–India

Selama berada di Mumbai, Destry melakukan pertemuan bilateral dengan Gubernur Reserve Bank of India, Sanjay Malhotra. Diskusi difokuskan pada percepatan kerja sama Local Currency Transaction (LCT) dan skema swap mata uang bilateral LCBSA antara Indonesia dan India.

"Kerja sama ini bagian dari komitmen BRICS dalam konektivitas ekonomi dan keuangan yang memberikan manfaat bagi kedua negara,"

- Destry Damayanti

Mereka juga membahas peluang integrasi pembayaran berbasis QR antarnegara untuk mempermudah transaksi lintas batas bagi pelaku usaha dan wisatawan.

Siapa saja anggota BRICS dan isu utama

Keanggotaan BRICS kini meluas dan mencakup negara-negara berikut:

  • Brasil
  • Rusia
  • India
  • Tiongkok
  • Afrika Selatan
  • Mesir
  • Uni Emirat Arab (UEA)
  • Ethiopia
  • Iran

Isu strategis yang dibahas meliputi penggunaan mata uang lokal, ketahanan siber, keuangan berkelanjutan, dan penguatan arsitektur keuangan global.

Implikasi dan langkah ke depan

Indonesia melihat dialog berkelanjutan sebagai kunci untuk membangun jembatan di tengah fragmentasi global. Ke depan, BI dan Kementerian Keuangan akan melanjutkan pembicaraan teknis untuk mengimplementasikan LCT dan mekanisme pembayaran lintas negara.

Langkah ini berpotensi memperluas alternatif pembiayaan dan transaksi bagi pelaku usaha serta meningkatkan stabilitas transaksi internasional antara anggota BRICS.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait