Rupiah Dibuka Melemah, Tertekan Geopolitik dan Inflasi AS
Rupiah dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026, terhadap dolar AS setelah tekanan geopolitik regional dan data inflasi AS yang lebih tinggi dari target. Pada pembukaan, nilai tukar tercatat turun ke sekitar Rp17.963 per dolar AS.
Pembukaan dan pergerakan awal
Pada sesi pagi, rupiah melemah sekitar 0,11 persen atau 19 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya. Indeks dolar AS bergerak di kisaran 99,89–100,06, menambah tekanan pada mata uang emerging market termasuk rupiah.
Faktor tekanan: geopolitik dan inflasi
Analis pasar memproyeksikan depresiasi rupiah hari ini sejalan dengan perkembangan global. Salah satu faktor utama adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko geopolitik dan mendorong permintaan aset aman seperti dolar AS.
"Rupiah hari ini kemungkinan akan terdepresiasi di kisaran Rp18.010 per dolar AS," kata Analis Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, Kamis, 11 Juni 2026.
Selain itu, rilis data inflasi AS menunjukkan angka tahunan sebesar 2,9% pada Mei 2026, di atas target bank sentral AS, the Fed, yang sebesar 2 persen. Data ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada akhir tahun.
Dinamika domestik dan kebijakan moneter
Di dalam negeri, kekhawatiran inflasi juga muncul setelah kenaikan harga BBM jenis Pertamax pekan lalu. Kondisi ini menambah tekanan terhadap rupiah dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral.
Lelang SRBI dan pergerakan imbal hasil
Bank sentral kembali menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan mencatat penyerapan total sebesar Rp15 triliun. Imbal hasil di seluruh tenor mengalami kenaikan sekitar 30 basis poin.
- Imbal hasil 6 bulan: 7,2%
- Imbal hasil 9 bulan: 7,4%
- Imbal hasil 12 bulan: 7,6%
"Kondisi itu menunjukkan strategi BI dalam menarik arus masuk modal melalui penawaran yield yang lebih kompetitif mulai menunjukkan hasil," ujar Tim Analis Mirae Asset Sekuritas.
Menurut Tim Mirae, tenor 12 bulan paling diminati dengan nilai awarded mencapai Rp14,5 triliun, atau sekitar 96 persen dari total penyerapan. Imbal hasil tenor 12 bulan telah naik sekitar 266 bps sejak awal tahun. Sementara itu, kepemilikan asing pada tenor 0–1 tahun tercatat naik sekitar Rp34 triliun secara bulanan.
Prospek ke depan
Ke depan, rupiah masih rentan terhadap sentimen eksternal, terutama perkembangan geopolitik dan data inflasi AS. Pergerakan imbal hasil domestik dan langkah kebijakan Bank Indonesia juga akan menjadi kunci menentukan arah kurs dalam beberapa pekan mendatang.
Berita Terkait
KAI Angkut 1,09 Juta Ton BBM Januari–Mei 2026
KAI menyalurkan 1,096,988 ton BBM selama Januari–Mei 2026, didukung koordinasi dengan Pertamina, BPH Migas,...
Pelanggan Kereta Panoramic KAI Naik 62,32% dalam 5 Bulan
Penumpang Kereta Panoramic KAI naik 62,32% menjadi 79.933 penumpang dalam lima bulan, sejalan dengan lonjaka...
KAI Targetkan Pendapatan Non-Angkutan Rp320 Miliar lewat Platform Digital
KAI luncurkan platform digital Space by KAI untuk optimalkan aset properti dan bidik pendapatan non-angkutan...
Bintaro Jaya 47: Fokus Kota Ramah Keluarga dan Berkelanjutan
Bintaro Jaya usia 47 fokus jadi kota ramah keluarga dan berkelanjutan dengan TOD, fasilitas edukasi, dan rua...
KAI Luncurkan Space, Aplikasi untuk Optimalkan Aset Strategis
KAI meluncurkan aplikasi Space pada 10 Juni 2026 untuk memudahkan pelaku usaha menjajaki kemitraan dan memon...
Kenaikan BI Rate 5,50% Dinilai Jaga Rupiah dan Tekan Inflasi
Kenaikan BI Rate menjadi 5,50% dinilai bisa memperkuat rupiah dan meredam inflasi, tapi berisiko menekan kon...