IHSG Diprediksi Lanjut Menguat, Berpeluang Uji Level 6.000
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat, 11 Juni 2026, setelah sehari sebelumnya ditutup menguat 2,71% ke level 5.902. Meskipun demikian, penguatan ini disertai net sell investor asing sebesar Rp3,13 triliun, sehingga pasar tetap menghadapi tekanan dari arus modal keluar.
Pergerakan IHSG dan sentimen pasar
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000. Dia memetakan level support IHSG di kisaran 5.750–5.840 dan level resistansi di 6.000–6.050.
IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000.
Investor asing tercatat melepas saham-saham perbankan dan komoditas. Saham yang paling banyak dijual asing antara lain:
- BBRI
- TPIA
- BBNI
- ANTM
- BUMI
Gejolak geopolitik dan inflasi AS mempengaruhi pasar
Sentimen global memburuk setelah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Pernyataan Presiden AS yang mengancam tindakan militer lebih lanjut mendorong penurunan bursa saham di AS dan kawasan Asia Pasifik pada penutupan Rabu, 10 Juni 2026.
Di samping itu, pasar juga mengamati data inflasi AS. Menurut Fanny, inflasi inti AS pada Mei 2026 tercatat naik 0,2% secara bulanan, sedikit di bawah konsensus pasar yang sebesar 0,3%.
Inflasi inti AS pada Mei 2026 naik 0,2 persen secara bulanan.
Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,9%, yang menurut Fanny masih di atas target The Fed sebesar 2%.
Ini berarti inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2 persen.
Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Kondisi ini bisa mempertahankan suku bunga global pada tingkat lebih tinggi untuk waktu lebih lama, sehingga menambah risiko bagi aset berisiko termasuk saham.
Data domestik: keyakinan konsumen dan penjualan mobil
Di dalam negeri, indeks keyakinan konsumen (IKK) turun ke level 120,9 pada Mei 2026 dari 123 bulan sebelumnya. Tim Analis Phintraco Sekuritas mencatat ini merupakan level terendah sejak September 2025.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh penilaian yang lebih lemah terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Sementara itu, ekspektasi terhadap ketersediaan pekerjaan dan aktivitas bisnis menunjukkan sedikit perbaikan. Penjualan mobil baru di Indonesia naik 14% secara tahunan menjadi 69.219 unit pada Mei 2026.
Outlook
Skenario jangka pendek IHSG akan ditentukan oleh perkembangan geopolitik, pergerakan harga komoditas—terutama minyak—dan data inflasi global. Tekanan net sell asing tetap menjadi risiko, meski sentimen domestik seperti penjualan otomotif memberi tanda pemulihan permintaan. Pelaku pasar perlu mencermati level 5.750–5.840 sebagai penyangga dan 6.000 sebagai target awal pergerakan selanjutnya.
Berita Terkait
KAI Luncurkan Space, Aplikasi untuk Optimalkan Aset Strategis
KAI meluncurkan aplikasi Space pada 10 Juni 2026 untuk memudahkan pelaku usaha menjajaki kemitraan dan memon...
Kenaikan BI Rate 5,50% Dinilai Jaga Rupiah dan Tekan Inflasi
Kenaikan BI Rate menjadi 5,50% dinilai bisa memperkuat rupiah dan meredam inflasi, tapi berisiko menekan kon...
Rupiah Menguat ke Rp17.944 per USD, Didorong Kenaikan Minyak dan Kebijakan BI
Rupiah ditutup menguat ke Rp17.944 per USD pada 10 Juni 2026, didorong kenaikan harga minyak dan kebijakan s...
IHSG Menguat 155 Poin, Ditopang Kenaikan Suku Bunga BI
IHSG ditutup menguat 155,73 poin ke 5.902,38 pada 10 Juni 2026, didorong kenaikan suku bunga BI dan penguata...
IKK Mei 2026 Turun ke 120,9 namun Tetap Optimis
IKK Mei 2026 tercatat 120,9, turun dari April tapi masih di zona optimis; IKE melemah sementara IEK sedikit...
DPR Dukung Tambahan Anggaran Kemenperin Rp1,59 Triliun
Wakil Ketua Komisi VII DPR dukung usulan tambahan anggaran Kemenperin Rp1,59 triliun untuk penguatan IKM, SD...