IHSG Diprakirakan Melemah, Pasar Terkerek Usai Perry Warjiyo Mundur
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan melemah pada perdagangan Bursa Efek Indonesia hari ini setelah penutupan tajam akhir pekan lalu. IHSG ditutup turun 1,88% ke level 6.196 pada Jumat lalu, dan pelaku pasar menilai sejumlah sentimen negatif akan mendorong tekanan lebih lanjut.
Penyebab pelemahan
Tim analis menyoroti kombinasi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan kebijakan perdagangan AS sebagai pemicu utama. Tekanan tersebut dinilai mampu membuat IHSG menguji level 6.000-6.100.
"Hari ini, IHSG masih berpotensi melemah untuk menguji level 6.000-6.100. Penyebabnya sejumlah sentimen negatif termasuk konflik AS-Iran yang memanas, harga minyak yang kembali menguat, serta tarif tambahan dari AS," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Senin, 27 Juli 2026.
Pengunduran diri Gubernur BI
Pagi ini Pemerintah mengumumkan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dari jabatannya. Pengunduran diri disebut atas alasan pribadi dan akan ditindaklanjuti secara administratif.
"Secara administratif tentu hari ini akan kami tindaklanjuti berkenaan dengan surat pengunduran diri tersebut. Karena sesuai mekanisme, maka akan diterbitkanlah keputusan presiden berkaitan dengan pemberhentian beliau secara hormat," ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Menurut pernyataan resmi, posisi Gubernur BI akan diisi secara otomatis oleh Deputi Gubernur Senior sesuai Undang-Undang. Mensesneg menyebut nama pengganti sementara.
"Di dalam catatan yang dimaksud Deputi Gubernur Senior adalah Ibu Destry Damayanti," ucap Prasetyo.
Sentimen pasar global dan agenda ekonomi
Selain berita domestik, pasar akan menimbang perkembangan konflik Timur Tengah dan kebijakan tarif impor AS. Salah satu kebijakan tarif baru telah mendapat gugatan hukum dari dua usaha kecil hanya beberapa jam setelah diberlakukan, menurut analis.
'Namun hanya beberapa jam tarif tersebut diberlakukan, sudah mendapatkan gugatan hukum dari dua usaha kecil,' ujar Tim Phintraco.
Investor juga mengamati pertemuan Federal Reserve dan rilis data ekonomi AS. Data yang menjadi perhatian meliputi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 dan indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE).
Apa yang dipantau investor domestik
Di level domestik, laporan keuangan emiten kuartal II dan aksi korporasi akan menjadi fokus. Geopolitik dan data ekonomi global diperkirakan tetap menentukan arah pasar jangka pendek.
- Rilis laporan keuangan emiten Q2 2026
- Pertemuan The Fed dan data GDP AS
- Indeks PCE sebagai indikator inflasi
- Perkembangan konflik AS-Iran dan harga minyak
Dengan kombinasi faktor tersebut, analis memperkirakan volatilitas tetap tinggi sampai ada kepastian dari faktor kebijakan dan geopolitik. Investor disarankan memantau perkembangan berita dan rilis data ekonomi yang dapat mengubah sentimen pasar secara cepat.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...