Bapanas Perkuat Keamanan Pangan untuk Dorong Ekspor Sayuran
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat penerapan standar keamanan pangan dari hulu hingga hilir untuk meningkatkan daya saing sayuran Indonesia dan membuka akses ekspor melalui Batam ke Singapura. Pernyataan itu disampaikan Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, pada kunjungan kerja di PT Batamindo Green Farm, Batam, Minggu 26 Juli 2026. Langkah ini dimaksudkan agar produk hortikultura memenuhi persyaratan pasar internasional.
Inspeksi produksi dan pascapanen di Batam
Tim Bapanas meninjau seluruh rangkaian produksi sayuran mulai budi daya sampai penanganan pascapanen di fasilitas packing house. Pemeriksaan difokuskan pada praktik budidaya, kebersihan fasilitas, dan proses pengemasan.
Bapanas menilai PT Batamindo sudah menerapkan sejumlah prosedur yang mendukung keamanan pangan. Namun, pihaknya meminta kelengkapan sertifikasi agar jaminan mutu lebih kuat saat menembus pasar ekspor.
Standar yang diterapkan: GAP dan SPPB-PSAT
Menurut Andriko, perusahaan telah menjalankan Good Agricultural Practices (GAP) dalam proses budi daya dan menerapkan Sertifikat Penerapan Penanganan yang Baik Pangan Segar Asal Tumbuhan (SPPB-PSAT) pada fasilitas pengemasan. Penerapan kedua standar ini dianggap krusial untuk memenuhi aturan pasar ekspor.
"Peluang pasar global harus dijawab dengan standar keamanan pangan yang kuat," ujar Andriko saat meninjau fasilitas. "Jika pangan kita aman dan diproduksi dengan baik, akan sangat mampu bersaing di pasar internasional."
Rekomendasi dan penguatan kapasitas
Bapanas mendorong PT Batamindo melengkapi proses produksinya dengan Sertifikat Prima sebagai jaminan mutu tambahan. Selain itu, Bapanas menyarankan perusahaan memperluas pola contract farming dengan petani lokal untuk menstandarisasi praktik di tingkat lapangan.
Langkah pembinaan, pengawasan, penguatan standar, dan sertifikasi disebut sebagai strategi berkelanjutan. Tujuannya adalah membangun ekosistem pangan segar yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Dampak pada ekspor dan prospek ke depan
Bapanas melihat kedekatan geografis Batam dan Singapura sebagai peluang strategis membuka akses ekspor sayuran fresh. Dengan standar yang konsisten, produk yang sesuai persyaratan berpeluang menembus pasar premium dan memperluas jaringan ekspor.
Pemerintah menargetkan semakin banyak produk pangan segar Indonesia memenuhi persyaratan internasional sehingga akses ekspor bisa meluas ke berbagai negara.
Dengan penguatan sertifikasi dan penerapan praktik produksi yang konsisten, harapannya posisi produk hortikultura Indonesia di pasar domestik dan internasional akan semakin kuat.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...