BI: Faktor yang Dorong Rupiah Kembali Normal
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan kembali menguat ke kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 9 Juni 2026, dengan alasan utama datang dari perbaikan kondisi global dan kekuatan fundamental domestik.
Prediksi dan waktu pemulihan
Perry menegaskan bahwa penguatan rupiah berpotensi terjadi pada semester kedua 2026, dengan periode puncak diperkirakan sekitar Juli hingga Agustus. Proyeksi ini didasarkan pada kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling mendukung.
Faktor eksternal: modal asing dan kondisi global
Menurut Perry, perbaikan kondisi ekonomi global akan memicu masuknya kembali aliran modal asing ke negara-negara emerging market seperti Indonesia. Aliran modal ini menjadi salah satu pendorong utama apresiasi mata uang domestik karena meningkatkan suplai devisa di pasar.
Faktor domestik: fundamental ekonomi yang kuat
Di dalam negeri, Perry menyebut beberapa indikator yang menjaga keyakinannya, antara lain pertumbuhan ekonomi yang solid, tingkat inflasi relatif rendah, cadangan devisa yang mencukupi, serta imbal hasil yang menarik bagi investor asing. Ia menekankan bahwa kombinasi faktor ini akan memperkuat dasar penguatan rupiah.
"Fundamental ekonomi Indonesia yang baik akan menopang penguatan nilai tukar rupiah,"
Peran ekspor dan perusahaan strategis
Perry juga optimistis bahwa peningkatan ekspor akan menambah pasokan devisa. Ia menyebut peran perusahaan baru seperti PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang diharapkan mampu memperbaiki kinerja ekspor nasional.
"Ekspor yang meningkat akan mendukung penguatan cadangan devisa, sehingga mendorong penguatan rupiah,"
Kebijakan BI dan koordinasi pemerintah
Selain faktor pasar, Perry menyoroti langkah kebijakan yang akan ditempuh BI. Intervensi pasar, dukungan kebijakan sektor keuangan, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"BI juga akan terus berkordinasi dengan pemerintah,"
Rencana intervensi ini dimaksudkan untuk meredam volatilitas jangka pendek dan memberi ruang bagi pemulihan bertahap nilai tukar.
Gambaran ke depan
Kombinasi perbaikan kondisi global, fundamental ekonomi domestik yang kuat, peningkatan ekspor, serta kebijakan BI yang proaktif menjadi landasan optimismenya. Meski begitu, realisasi penguatan rupiah tetap tergantung pada dinamika pasar internasional dan efektivitas kebijakan di dalam negeri.
Berita Terkait
IHSG Berpeluang Lanjut ke 5.800–6.000 Setelah Naik 7,57%
IHSG berpeluang melanjutkan penguatan ke 5.800–6.000 pada 10 Juni 2026 setelah lonjakan 7,57%; asing catat n...
GovTech Terkoneksi 80%: Luhut Laporkan ke Presiden
Luhut laporkan GovTech sudah 80% terkoneksi dan menggunakan AI untuk pembersihan data, meningkatkan verifika...
Indosat Gandeng Nokia untuk Modernisasi Jaringan 5G
Indosat dan Nokia bekerja sama modernisasi jaringan 5G untuk meningkatkan kapasitas, kinerja, dan cakupan la...
OJK Panggil Toyota Astra Financial terkait Dugaan Pelanggaran Penagihan
OJK memanggil Toyota Astra Financial Services atas dugaan pelanggaran penagihan kredit di Serang dan meminta...
Holding Perkebunan Ajak Generasi Muda Percepat Transformasi
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara ajak generasi muda aktif percepat transformasi industri perkebun...
Angkutan Peti Kemas KAI Naik 19,35% hingga Mei 2026
KAI catat kenaikan angkutan peti kemas 19,35% hingga Mei 2026, total 2.428.471 ton, dorong efisiensi logisti...