Penguatan Rupiah Berlanjut Setelah BI Naikkan BI Rate ke 5,5%
Rupiah meninggalkan level Rp18.000 pada pembukaan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,5%. Rupiah dibuka menguat 0,43% atau 78 poin ke posisi Rp17.980 per dolar AS, menindaklanjuti penguatan 0,71% ke Rp18.058 pada penutupan sehari sebelumnya.
Pergerakan Rupiah Hari Ini
Pembukaan pasar menunjukkan respons positif terhadap langkah kebijakan BI. Para analis memperkirakan penguatan masih berlanjut, namun bersifat terbatas. Prediksi rentang pergerakan rupiah berada di kisaran Rp17.900–Rp18.100 per dolar AS.
Indeks dolar AS juga diprakirakan bergerak relatif stabil pada level 99,90–100,02, yang turut memengaruhi ruang pergerakan rupiah di pasar valas.
Faktor Penguatan dan Batasannya
Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai langkah BI memperkuat prospek rupiah dalam jangka pendek. Namun ia menekankan terdapat hambatan dari faktor global.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah BI menaikkan suku bunga,"
"Eskalasi konflik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak mentah dunia akan membatasi penguatan rupiah,"
Dengan risiko geopolitik dan tekanan harga komoditas, penguatan rupiah diperkirakan belum sepenuhnya lepas landas meski mendapat dukungan kebijakan domestik.
Dampak Kebijakan BI dan Proyeksi Pasar
Analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menyebut kenaikan off-cycle menunjukkan urgensi BI dalam menstabilkan nilai tukar. Ia mengaitkan langkah ini dengan kemungkinan respons pasar surat berharga negara (SBN).
"Keputusan BI menaikkan suku bunga di luar jadwal (off-cycle) menunjukkan urgensi untuk menstabilkan rupiah,"
Menurut Jessica, sejarah menunjukkan kebijakan sejenis biasanya diikuti kenaikan imbal hasil SBN tenor 10 tahun antara 100 hingga 320 basis poin sepanjang tahun kalender. Ia juga memperkirakan arus masuk dana asing dan pergerakan rupiah sebagai berikut:
- Penguatan rupiah 1–3% dalam satu bulan
- Arus masuk dana asing Rp10–40 triliun dalam tiga bulan
- Ruang tambahan kenaikan suku bunga BI sebesar 25–50 bps jika tekanan berlanjut
"Langkah ini bertujuan memperkuat kredibilitas dan independensi BI,"
Prospek dan Implikasi
Langkah BI meningkatkan suku bunga memperlihatkan upaya aktif menahan depresiasi rupiah yang sudah mencapai sekitar 9% sejak awal tahun. Meski kebijakan ini mendongkrak sentimen, pelaku pasar tetap waspada terhadap faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan harga minyak.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada dinamika arus modal asing, perkembangan geopolitik, dan sinyal kebijakan BI selanjutnya. Pelaku pasar disarankan memantau data aliran modal dan perkembangan harga minyak untuk mengantisipasi volatilitas.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...