Rupiah Berpeluang Menguat Akhir Pekan, Dipengaruhi Fed dan Geopolitik
Rupiah bergerak fluktuatif terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, namun memiliki peluang menguat menuju akhir pekan. Data perdagangan mencatat rupiah sempat melemah saat pembukaan, lalu menguat 0,17 persen ke level Rp18.019 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp18.049 per dolar AS.
Pergerakan pasar hari ini
Perdagangan pagi menunjukkan volatilitas tinggi di pasar valuta asing domestik. Dalam kurun setengah jam setelah pembukaan, rupiah berbalik menguat meski sebelumnya tertekan. Penguatan singkat ini masih menandakan sentimen hati-hati dari pelaku pasar.
Faktor yang mendukung penguatan
Analis menilai ada beberapa faktor yang berpotensi mendorong apresiasi rupiah menuju akhir pekan. Pertama adalah meredanya kemungkinan eskalasi konflik internasional.
"Harapannya rupiah akan terapresiasi hari ini ke kisaran Rp17.980 per dolar AS,"
pernyataan tersebut disampaikan oleh Analis Pasar Uang Valbury Sekuritas, Fikri C. Pemana. Ia mencatat ruang perdamaian antara AS dan Iran serta ekspektasi mundurnya kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi katalis positif.
Namun, tensi geopolitik regional masih berpengaruh. Konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan di Lebanon dan langkah militer oleh pasukan Israel, menjaga ketidakpastian tinggi yang membuat harga minyak global tetap labil.
Pandangan ekonom dan risiko
Sementara itu, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan belum melihat katalis kuat untuk mendorong penguatan lanjutan rupiah. Menurutnya, fokus Bank Indonesia saat ini lebih pada menahan aliran modal keluar dengan menjaga imbal hasil SRBI pada level tinggi.
Mirae Asset mencatat bahwa sejak awal Januari 2026 rupiah sudah melemah sekitar 8,2 persen, sehingga menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di kawasan. Hal ini terjadi meski indeks dolar AS relatif stabil di sekitar level 99.
Apa yang perlu dicermati
- Kebijakan suku bunga The Fed dan kemungkinan penundaan kenaikan.
- Perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Lebanon yang bisa memengaruhi harga minyak.
- Langkah-langkah BI untuk menahan outflow melalui instrumen imbal hasil.
Di akhir, pasar akan terus memantau kombinasi faktor global dan domestik untuk menentukan arah rupiah. Jika ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga The Fed berlanjut dan ketegangan geopolitik mereda, peluang penguatan rupiah ke kisaran yang disebut analis tetap terbuka.
Berita Terkait
OJK Minta Korban Penipuan Investasi Purwokerto Segera Melapor
OJK meminta korban dugaan penipuan investasi di Purwokerto segera melapor; Bank Mantap dipanggil dan posko p...
IHSG Sesi I Menguat ke 5.842,09, Tekanan Rupiah & UU P2SK
IHSG membuka sesi I ke 5.842,09 pada 5 Juni 2026; pasar masih tertekan oleh rupiah melemah dan ketidakpastia...
Indonesia Dapat Pengecualian Tarif AS dalam Kasus Section 301
USTR akui komitmen Indonesia soal penegakan ketenagakerjaan; Indonesia dapat tarif 10% dan 18 pengecualian p...
IGCN: Bisnis Berkelanjutan Jadi Tuntutan Pasar Global
IGCN minta perusahaan Indonesia jadikan keberlanjutan strategi utama; pasar global kini mensyaratkan pengura...
IHSG Berisiko Melemah, Rupiah Tembus Rp18.000 dan UU P2SK Jadi Sorotan
IHSG diperkirakan masih melemah usai turun 1,70%; rupiah tembus Rp18.000 dan UU P2SK serta rencana obligasi...
INDOFEST 2026 Perkuat Industri Outdoor Nasional
INDOFEST 2026 digelar 4-7 Juni di JCC Jakarta, rayakan 10 tahun dengan 80 merek, kampanye sosial, dan target...