Rupiah Tembus Rp18.000, DPR Dorong Sinergi Fiskal-Moneter di KSSK
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah mendesak Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter setelah rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, Kamis, 4 Juni 2026, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Tekanan nilai tukar ikut memicu koreksi pasar keuangan, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkontraksi signifikan.
Tekanan Rupiah dan Dampak Pasar
Said mencatat pelemahan rupiah telah mencapai batas psikologis dan ikut menekan kinerja bursa. Menurutnya, IHSG tercatat mengalami koreksi sekitar 3,04 persen pada hari yang sama. Kondisi ini memperlihatkan dampak langsung apresiasi dolar dan sentimen pasar terhadap aset domestik.
“Pelemahan rupiah hari ini menyentuh batas level psikologi dan kemudian pasar keuangan kita. Khususnya di bursa, sekarang indeks harga saham gabungan minus sekitar 3,04 persen.”
Seruan Perkuat Sinergi di KSSK
Said mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya soal fundamental ekonomi domestik. Ia menilai persepsi pasar memainkan peran penting sehingga koordinasi kebijakan menjadi kunci untuk meredam gejolak nilai tukar.
“Persoalannya ini bukan sekedar fundamental ekonomi saja, karena dari sisi nilai rupiah sudah under value. Maka saya sungguh berharap sejak awal ada sinergi bauran fiskal dan moneter dalam forum KSSK.”
Rekomendasi untuk Pemerintah dan Investor
Said meminta pemerintah mengambil langkah untuk membangun optimisme pelaku usaha dan investor. Ia menekankan perlunya mitigasi terhadap pelemahan rupiah yang berkelanjutan melalui kepastian hukum dan tata kelola kebijakan.
Menurutnya, beberapa fokus yang perlu diperkuat adalah:
- Menjaga transparansi dan akuntabilitas kebijakan fiskal dan moneter.
- Meningkatkan kepastian hukum untuk menarik kepercayaan investor.
- Mempertahankan fokus pada program prioritas Presiden guna stabilitas ekonomi jangka menengah.
“Kalau tidak segera KSSK melakukan pembenahan dan penguatan terhadap berdarahnya pelemahan rupiah yang terus-menerus, maka persepsi pasar akan terus berkembang. Ini yang harus kita jaga bersama.”
Prospek dan Implikasi
Perkembangan ini menempatkan koordinasi antarlembaga sebagai prioritas untuk menahan volatilitas pasar. Penguatan sinergi fiskal dan moneter dalam forum KSSK dinilai penting agar kebijakan responsif terhadap dinamika eksternal dan domestik.
Ke depan, pemerintah dan otoritas terkait perlu segera menegaskan langkah kebijakan dan komunikasi untuk meredam kekhawatiran pasar serta menjaga stabilitas makroekonomi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...