Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.000, Sentimen Negatif Global Jadi Pemicu

Bagikan:
Ilustrasi nilai tukar rupiah melemah dengan grafik dan mata uang dolar AS

Jakarta — Nilai tukar rupiah melemah dan menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Pelemahan ini dinilai mencerminkan sentimen negatif pasar keuangan global, terutama karena ketidakpastian geopolitik yang dipicu ketegangan antara AS dan Iran.

Penyebab utama: ketegangan geopolitik

Direktur Utama PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan pasar sudah memperkirakan tekanan ini. Menurut Ariston, tarik-ulur geopolitik membuat pelaku pasar menilai situasi akan berlangsung lama sehingga tekanan pada rupiah berlanjut.

"Ini sebenarnya sudah diprediksi, laju pelemahannya memang belum bisa ditahan sepenuhnya oleh Bank Indonesia. Pemicu utamanya adalah tarik-ulur antara AS dan Iran, sehingga pasar melihat situasi ini masih akan berlangsung cukup lama,"

Dampak pada pasar saham dan sentimen investor

Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan koreksi di pasar saham domestik. Ariston menyoroti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai indikasi berkurangnya kepercayaan investor. Penurunan IHSG memperburuk tekanan terhadap rupiah karena aliran modal cenderung keluar.

"Kemarin IHSG kembali anjlok ini. Menunjukkan kepercayaan investor asing menurun sehingga rupiah juga belum mampu menguat lebih lanjut,"

Langkah Bank Indonesia

Bank Indonesia telah merespons tekanan pasar dengan beberapa kebijakan. Otoritas moneter menaikkan suku bunga acuan dan melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing dengan menambah pasokan dolar AS. Namun, menurut pengamat pasar, langkah tersebut sejauh ini belum sepenuhnya efektif meredam pelemahan.

Pergerakan pasar hari ini

Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah tercatat melemah sekitar 0,32 persen atau 57 poin, sehingga berada di level Rp18.023 per dolar AS, menurut data Bloomberg. Angka ini menandai tekanan lanjutan sejak beberapa sesi terakhir.

Prospek dan implikasi

Dengan latar ketidakpastian geopolitik yang diperkirakan berlanjut, tekanan terhadap rupiah kemungkinan berlanjut dalam jangka pendek. Intervensi dan pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dapat membantu meredam gejolak, namun efektivitasnya akan bergantung pada perkembangan geopolitik dan sentimen investor asing.

Pelaku pasar disarankan tetap memantau pengumuman kebijakan global dan data pasar domestik yang dapat memengaruhi permintaan dolar AS dan arus modal.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait