Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar, Tekanan Dolar AS Berlanjut
Rupiah melemah dan menembus level Rp17.700 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, seiring penguatan dolar Amerika Serikat. Bloomberg mencatat posisi rupiah pada pukul 10.00 WIB sudah mencapai level tersebut, sementara indeks dolar berada di level 99.
Pergerakan hari ini dan data terakhir
Pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026, rupiah tercatat melemah 0,41 persen atau 71 poin ke posisi Rp17.667 per dolar AS. Tekanan di pasar valuta asing datang dari penguatan indeks dolar yang bergerak lebih tinggi dalam beberapa sesi terakhir.
Faktor penggerak pelemahan
Analis pasar uang Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, mengatakan penguatan dolar dipicu oleh ekspektasi inflasi dan prospek suku bunga tinggi di AS. Dia juga menyoroti perubahan kepemimpinan di Federal Reserve sebagai salah satu faktor sentimen.
"Sebelumnya, indeks dolar AS meningkat sangat tajam," ujar Fikri C. Permana.
Peralihan tugas di The Fed tercatat dengan penunjukan Kevin Warsh sebagai ketua pengganti Jerome Powell, yang masa tugasnya telah berakhir. Peristiwa ini turut memengaruhi arah pasar global dan arus modal.
Langkah Bank Indonesia dan pemerintah
Di dalam negeri, Bank Indonesia terus melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan nilai tukar. Pemerintah juga menyiapkan langkah fiskal untuk menopang rupiah.
"Pemerintah juga akan menggulirkan dana stabilisasi obligasi ke pasar untuk mendorong penguatan rupiah," kata Fikri.
Pelaku pasar kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang sedang berlangsung. Gubernur BI Perry Warjiyo dijadwalkan mengumumkan keputusan rapat pada Rabu, 20 Mei 2026. Fikri menilai ada kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan yang saat ini di level 4,75 persen.
Pemerintah juga membuka lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif sebesar Rp12 triliun, langkah yang dimaksudkan untuk memperkuat pasar domestik.
Risiko ke depan
Meskipun ada peluang penguatan tipis bagi rupiah, Fikri memperingatkan masih ada faktor yang dapat memberi tekanan. Ia menyebut potensi noise kebijakan yang dapat memicu aksi jual oleh investor asing pada portofolio domestik.
"Noise terkait kebijakan pemerintah dikhawatirkan mendorong aksi jual oleh investor asing pada portofolio domestik," ujar Fikri.
Kondisi selanjutnya akan bergantung pada keputusan kebijakan moneter BI, arah suku bunga global, serta respons pasar terhadap langkah stabilisasi pemerintah. Investor dan pelaku pasar diperkirakan akan memantau rilis kebijakan BI dan data ekonomi yang dapat memengaruhi arah rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pertamina Perkuat Layanan Kesehatan dan Pemberdayaan di Jatim
Iriawan meninjau RS IHC Perkebunan Jember pada 2 Juli 2026 dan mendorong inovasi, profesionalisme, serta emp...
Harga Emas Pegadaian: Galeri24 & UBS Stabil per 3 Juli 2026
Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian stabil per 3 Juli 2026, masing-masing Rp2.627.000 dan Rp2.639.000 p...
Rupiah Menguat Saat Pembukaan, Terpengaruh Data Ketenagakerjaan AS
Rupiah menguat ke Rp17.958 pada pembukaan perdagangan setelah data NFP AS lebih lemah, namun sentimen domest...
IHSG Menguat 1,07% ke 5.806,17 Saat Sesi I
IHSG dibuka menguat ke 5.806,17 pada 3 Juli 2026, terdorong data ketenagakerjaan AS dan mandat baru OJK.
Harga Emas Antam Naik Rp11.000, 1g Rp2.651.000
Emas Antam menguat 3 Juli 2026, naik Rp11.000/gram menjadi Rp2.651.000; lihat daftar harga per ukuran dan ca...
IHSG Diperkirakan Sideways Akhir Pekan, Asing Jual Rp23 Miliar
IHSG diperkirakan sideways akhir pekan di kisaran 5.650-5.87, meski asing mencatat net sell Rp23 miliar dan...