Lokal

Revitalisasi Samudera Pasai: Dari Makam Malikussaleh ke Museum Hidup

Bagikan:
Kompleks makam sejarah Samudera Pasai di Aceh Utara sebagai situs warisan

LHOKSUKON — Para akademisi dan pemerintah daerah mendesak penghidupan kembali warisan Kesultanan Samudera Pasai sebagai living museum yang aktif, bukan sekadar objek di museum konvensional. Rekomendasi ini disampaikan dalam Seminar dan Diseminasi Kajian Kesultanan Samudera Pasai pada Rabu, 9 September, di Aula Setdakab Aceh Utara, bertepatan dengan rangkaian peringatan 800 tahun Samudera Pasai.

Museum Hidup: konsep dan langkah awal

Saifuddin Dhuhri Lc MA memaparkan konsep Living Museum untuk Samudera Pasai. Ia menekankan pentingnya mengubah situs seperti Makam Sultan Malik al-Saleh menjadi ruang belajar yang hidup dan relevan bagi masyarakat.

"Pasai bukan sekadar cerita di masa lalu yang mati di dalam gedung museum konvensional,"

Saifuddin melanjutkan bahwa transformasi ini membutuhkan integrasi lanskap, komunitas, dan program edukasi yang berkelanjutan.

Kerangka dan alat penghidupan warisan

Menurut Saifuddin, pendekatan Persianate Heritage Framework dapat menjadi dasar teoritis. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan pelibatan generasi muda—pelajar, guru, dan komunitas—dinilai krusial untuk menjadikan situs sejarah sebagai "kelas tanpa dinding".

  • Penerapan kerangka warisan budaya berbasis konteks historis
  • Digitalisasi koleksi dan narasi untuk akses publik
  • Keterlibatan pendidikan formal dan komunitas lokal

Revitalisasi kesadaran sejarah

Prof. Dr. Husni Mubarrak A Latief Lc MA menyoroti pentingnya historical awareness. Ia mengingatkan bahwa Samudera Pasai yang berdiri sejak pertengahan abad ke-13 (1267 M) memiliki peran penting dalam penyebaran dan pembentukan peradaban Islam di Nusantara.

Husni menekankan revitalisasi melalui kajian naskah klasik, epigrafi, arkeologi, dan etnografi agar masyarakat memperoleh rasa bangga dan fondasi kuat untuk pembangunan masa depan.

Integrasi ke perencanaan daerah

Sesi dibuka oleh Kepala Bappeda Aceh Utara, Drs. Adamy MPd, yang memaparkan arah kebijakan perencanaan daerah. Pemerintah daerah berkomitmen mengintegrasikan hasil kajian pelestarian dan konservasi ke dalam rencana pembangunan kabupaten.

Sekretaris Daerah mewakili Bupati saat membuka seminar dan mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar aktif menjaga memori kolektif bangsa dan tidak membiarkan pihak lain lebih mengenal sejarah daerah daripada penduduk setempat.

Momentum 800 tahun dan harapan ke depan

Kegiatan ini bagian dari perayaan 800 tahun Kesultanan Samudera Pasai. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berharap momentum tersebut memacu pemulihan jejak peradaban menjadi sumber manfaat ekonomi, pendidikan, dan pariwisata.

Dengan pendekatan terpadu—akademis, digital, dan partisipatif—Samudera Pasai diharapkan bukan hanya dikenang, tetapi hidup kembali sebagai aset budaya dan pembangunan daerah.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait